Senin, 03 April 2017

Tiga PR Besar PMII Banjarmasin - Oleh : Arif Riduan

Tiga PR Besar PMII Banjarmasin
Oleh : Arif Riduan

Berbicara tentang keberadaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di Kalsel, khususnya Banjarmasin tentu juga berkaitan dengan sejarah di dalamnya. Setelah dideklarasikannya PMII pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya, maka timbul hasrat dari para mahasiswa Nahdiyyin Banua untuk mendirikan cabang PMII di Banjarmasin. Mahasiswa yang kebanyakannya dari mantan aktivis IPNU dan GP Anshor, bahkan pengurus NU sendiri sangat bulat tekatnya, maka pada bulan Juni 1960 para aktivis yang diantara, Hasbullah Nasir, Bahdar Rasyidi, Mahlan Umar, Jamaah Ijab, Marhani dan beberapa orang lainnya sering mengadakan pertemuan untuk membicarakan pembentukan cabang PMII di Banjarmasin bersama beberapa mahasiswa dari IAIN Antasari dan IKIP (sekarang FKIP ULM).

Pada tanggal 9 September 1960 dibentuk panitia persiapan pembentukan PMII Cabang Banjarmasin. Dan pada 12 Januari 1961 secara resmi PMII cabang Banjarmasin disahkan oleh Ketua Umum PB PMII pertama H. Mahbub Djunaedi. Setelah berdirinya PMII di Banjarmasin lalu meluaslah PMII yang ada di Banua, hingga berdiri cabang-cabang lain, Amuntai, Banjarbaru, Kotabaru, Barabai, Tabalong dan Barito Kuala. 

Dalam eksistensinya kader-kader PMII Banjarmasin hingga sekarang selalu menjadi penggerak diberbagai bidang kegiatan kemahasiswaan, baik secara internal kampus maupun secara eksternal kampus. Bahkan menyandang gelar sebagai kader PMII adalah sebuah kebanggan bagai aktivis-aktivis PMII yang berkegiatan di kampus maupun di luar kampus. Dan juga menjadi kontrol sosial terhadap pemerintah, serta banyak perannya pula di dalam kegaiatan-kegiatan sosial.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang juga sebagai bagian dari Nahdatul Ulama (NU) tentunya pula memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan masyarakat seperti halnya NU, setidaknya PMII menanamkan 3 karakteristik wawasan beragama, Pertama, Sikap moderat (tawassut), mengambil sikap jalan tengah. Kedua, sikap toleran (tasamuh). Dan ketiga, sikap harmoni (tawazun) dalam artian selaras dalam menilai, selaras dalam berpikir, bersikap dan berntindak. 

PMII di Banua dulu hingga kini merupakan salah satu pemasok kader NU, karena pada umumnya dan kebanyakannya kader-kader NU yang ada di Kalsel ialah dari kaderisasi PMII Banua. Sehingga dalam artian lain, PMII adalah pintu gerbang lahirnya generasi-generasi NU yang ada di Banua dengan segala aktivitas dan pemikirannya. Maka dari itu PMII di Banua sangat penting sekali perananya untuk membentuk masyarakat Banua untuk lebih baik dengan segala kearifan lokal dan sosial-budaya, namun tetap masyarakat yang beragama, beradab, toleran dan cinta akan NKRI. 

Sejalan dengan itu, KH. Syarbani Kaira, di sela-sela sambutannya pada peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw oleh Pengurus Cabang PMII Banjarmasin, beliau mengatakan, setidaknya ada tiga PR besar PMII Banjarmasin saat ini. Yang pertama, pembentukan kaum intelektual dari kader-kader PMII. Kedua membentuk jiwa-jiwa wiraswasta atau pengusaha. Dan yang ketiga, membangun kader-kader aktivis-politik.

Benar saja, bahwa PMII harus melahirkan kaum-kaum intelektual di masa yang akan datang dari sekarang, dari awal pengkaderan PMII sudah harus mempersiapkan kader-kader yang nantinya akan diharapkan akan menjadi intelektual Islam yang berlandaskan ahlusunnah waljamaah yang mampu menjadi acuan kehidupan masyarakat modern yang akan datang, dimana paham-paham tidak jelas bahkan sesat mulai menggerogoti akidah Islam dan paham nasionalisme yang sudah mengakar di bumi nusantra sejak dulu. Dan hendaklah nanti menjadi akdemisi guna meneruskan estafet pemikiran dan paham tawassut, tasamuh, tawazun. Hal ini bukan barang mudah untuk wujudkan, namun setidaknya dapat dimulai dengan diskusi rutin, menulis dan membaca.

Sebagaimana yang disebutkan oleh KH. Syarbani Khaira yang juga alumni PMII dan juga sebagai Ketua PWNU Kalsel mengatakan bahwa PMII Banjarmasin harus membangun jiwa-jiwa wiraswasta dari sejak dini. Wiraswasta saat ini memang sangat dianggap mampu untuk menyingkirkan pemikiran bahwa setelah kuliah itu harus menjadi pegawai pemerintah atau bekerja di perusahaan, yang sebenarnya yang menjadi hakikat mahasiswa ialah selain sebagai karier di masa depan juga sebagai masyarakat intelek yang diharapkan mampu memberikan perubahan yang lebih baik pada masyarakat, terlebih lagi bagi seorang aktivis PMII yang tentu ketika kembali ke masyarakat sangat diharapkan pengalaman dan ilmu untuk membangun masyarakat yang lebih baik.



Terakhir ialah, PMII juga mesti membangun kader-kader aktivis, baik aktivis sosial maupun aktivis politik. Tentu saja hal ini dirasa sangat perlu, karena hadirnya PMII diharapkan bukan hanya membangun masyarakat dari sisi agama, namun juga harus dengan sejalan dengan tatanan sosial sebagai masyarakat yang berdaulat dan bernegara.


2 komentar:



  1. https://drive.google.com/file/d/0B6ut4qmVOTGWMkJvbFpZejBQZWM/view?usp=drivesdk

    Web: almawaddah.info


    Salam


    Kepada:

     

    Redaksi, rektor dan para akademik


    Per: Beberapa Hadis Sahih Bukhari dan Muslim yang Disembunyikan


    Bagi tujuan kajian dan renungan. Diambil dari: almawaddah. info

    Selamat hari raya, maaf zahir dan batin. 

    BalasHapus
  2. How to get to Vegas (NJ) Casino & Hotel with public transportation
    The cheapest way to get to Las Vegas 나주 출장마사지 (NJ) Casino & Hotel costs only $1, and 광양 출장마사지 the quickest way takes 시흥 출장샵 just 19 mins. Find 경산 출장샵 the 김천 출장샵 travel option that best suits

    BalasHapus

Manaqib KH. Basyirun Ali, Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin

  Manaqib Syekh KH. Basyirun Ali, Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin Penulis Arif Riduan, S.Sos.I Alumni ponpes Nurul Janna...