Kamis, 06 April 2017

Datu Aling Dari Muning, Berjuang Untuk Rakyat


ilustrasi - sumber net

Konflik perebutan kekuasaan yang terjadi antara keluarga kesultanan Banjar menyebabkan berbagai masalah, diantaranya lembaga kekuasaan kerajaan hampir tidak lagi berfungsi. Lebih-lebih setelah Belanda ikut dalam urusan kesultanan Banjar. Kedatangan Belanda merubah ekonomi, politik, dan sosial.
Sisi lain, dalam hal ekonomi, kebutuhan para penguasa kerajaan ( Kesultanan ) bertambah besar untuk mensejajarkan tingkat hidup mereka dengan orang-orang asing, sedangkan penghasilan mereka semakin sedikit, bahkan sangat berkurang. Langkah satu-satunya ialah adalah meningkatkan pajak dua kali lipat, untuk melingdungi status mereka di mata rakyat.

Cara demikian mengakibatkan munculnya peraturan sosial dan politik menjadi timpang, serta sangat memberatkan rakyat yang hanya mayoritas bertani dan pedangan kecil. Kepincangan ini mengakibatkan mereka ( Kesultanan Banjar ) dianggap telah melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Banjar. Keadaan ini pulalah yang menumbuhkan perlawanan rakyat terhadap Belanda, juga kepada Sultanan Banjar.

Sambang ialah anak muda yang gagah perkasa, cekatan dalam bertarung dan di hormati oleh kalangan masyarakat Muning, Margasari. Dia sangat dihormati kerena dia adalah seorang anak tokoh masyarakat yang menjadi panutan agama juga sebagai panutan masyarakat Muning untuk melawan penjajah Belanda. Datu Aling, itulah namanya, seorang petani yang bisa dikatakan petani yang rajin, ulet, dermawan, berani, dan berwibawa. Maka dari itu Datu Aling dianggap oleh masyarakat sebagai Tetuha Kampung ( tokoh masyarakat ).

Sepulangnya Datu Aling dari petapaannya untuk mencari kekuatan, dan pencerahan di hutan dia bertemu dengan anaknya Sambang di rumah. Sambang sudah satu bulan ke Banjarmasin untuk memata-matai keadaan di sana atas perintah ayahnya Datu Aling. “ Bagaimana, Banjarmasin atau Martapura yang akan kita serbu terlebih dahulu ?. tanyanya kepada Sambang. 

Sambang pun menerangkan kepada ayahnya bahwa Banjarmasin sungguh sangat mustahil untuk ditaklukan oleh ayahnya dan masyarakat Muning, terlebih lagi Belanda juga sudah mendatangkan banyak meriam dan persenjataan lainnya dari Batavia ke Banjarmasin untuk memperkokoh pertahanan dan persenjataan. Ketika Datu Aling bertnya tentang Martapura, Sambang mengatakan bahwa Kesultanan Banjar tidak ada di Martapura, melainkan di Banjarmasin. “ Dasar pengecut, rupanya dia selalu berada bawah ketiak tuannya “. Ucap Datu Aling ketika mendengar bahwa Sultan Tamjid dan keberadaan Kesultanan bukan di Martapura melainkan di Banjarmasin yang tentunya di bawah perlindungan Belanda. 

Datu Aling bertanya kepada anaknya bagaimana caranya dia agar tidak tertangkap oleh Belanda dan orang-orang yang memihak kepada Belanda. Padahal setiap orang yang dia utus selalu saja tertangkap dan dibunuh. Sambang menceritakan dia juga sempat tertangkap oleh tentara Belanda, namun berhasil lolos dari dibantu oleh seseorang yang menyelamatkan dirinya. Ayahnya pun sangat senang dan sangat ingin sekali menjumpai orang yang telah menyelamatkan nyawa anaknya.

“ Ayah, saya dengar ayah akan menobatkan diri sebagai Menembahan ( pemimpin ), lalu ayah ingin meruntuhkan kekuasaan Kesultanan Tamjid dan setelah itu menobatkan diri sebagai Sultan Banjar yang baru, apakah itu benar ?”. Tanya Sambang kepada ayahnya. Dan ayahnya pun mengiyakan semua itu. Betapa terkejutnya Sambang mendengar hal seperti ini dan kecewa kepada ayahnya. “ Ayah ini adalah puncak dari segala kegilaan !!”. Ucap Sambang. Bahkan Sambang mengatakan kepada ayahnya, kita tidak lebih dari sepasang orang-orang gila, gila kehormatan, gila harta, gila kekuasaan. Untuk menggapai kegilaan tersebut kita akan mengorbankan perlawanan dan perjuangan rakyat hanya untuk kegiaan ayahnya, yang memang sebenarnya juga membenci Belanda dan Kesultanan Banjar yang selama ini semena-mena kepada rakyat. Namun kebencian tersebut secara tidak langsung menumbuhkan rasa nafsu kekuasaan dalam diri Datu Aling.

Sambang banyak bercerita kepada ayahnya bahwa selama ini dia banyak belajar kepada seseorang tentang arti sesungguhnya perjuangan ini ( perlawanan kepada penjajah ). Dari dia Sambang banyak belajar tentang kemerdekaan dan keadilan, serta juga banyak belajar tentang agama. Sampai pada akhirnya Sambang diajarkan untuk menghilangkan nafsu-nafsu serakah: nafsu memiliki hak orang lain, nafsu menguasi hidup, dan kemerdekaan orang lain. Sambang menganggap nafsu serakah itu kini melekat pada perjuangan ayahnya.
Dia menuturkan kepada Datu Aling bahwa di seluruh wilayah Kesultanan Banjar ini telah telah menyala berpuluh-puluh api perlawanan terhadap penjajah, yang mungkin kabar ini tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Perlawanan tersebut ialah untuk kemerdekaan rakyat terhadap penjajah, bukan untuk nafsu kekuasan atau kepentingan segelintir saja. Sama seperti halnya perjuangan rakyat Muning hendaklah mengusung niat sebagai perlawanan kemerdekaan bukan sebagai pengingin tahta kesultanan. Sambang meyakinkan kepada ayahnya, tak layak jika perjungan ini hanya untuk kejayaan ayahnya, akan tetapi adalah untuk kebebasan dan kemerdekaan seluruh rakyat Banjar dari penindasan penjajah dan penguasa yang mena-mena.

Ketika Sambang meminta kepada ayahnya untuk bergabung kepada perjuangan Pangeran Antasari yang selama ini sangat gencar melakukan perlawanan terhadap Belanda, Datu Aling menolak untuk bergabung. Dia juga mengira bahwa perlawanan Antasari sama seperti dia, yakni perjuangan yang unjung-unjungnya adalah tahta yang ingin dimiliki. Terlebih lagi Pangeran Antasari adalah bagian dari Kesultanan tersebut, yang hanya ingin merebut kekuasan dengan cara perlawan terhadap penjajah. Ayahnya tetap menolak tidak ingin bergabung dengan perjuangan Pangeran Antasari, dan ketika sambang mengatakan “ Jika ayah tidak bergabung, maka ayah akan kehilangan laskar-laskar dan rakyat Muning. Karena mereka sudah bergabung kepada Pangeran Antasari atas perintahku “. Mendengar hal itu Datu Aling langsung mencabut Mandau ( parang khas Kalimantan ) dan mendekati Sambang untuk ditebaskan. “ Pengkhianat !!! Kau Khianati ayahmu sendiri !! ”. Teriak Datu Aling. Beruntunglah kala itu adik Sambang yang bernama Saranti yang juga anak Datu Aling. Ketegangan itu pun berhenti. 

Tak lama kemudian rombongan Pengeran Antasari dan kedua anaknya Gusti Mat Said, Gusti Mat Seman, serta membawa Jalil. Awalnya kedatangan Pangeran Antasari tak begitu dihiraukan oleh Datu Aling yang memang tak setuju dengan berbagungnya masyarakat Muning dengan Antasari. Namun setelah keramahtamahan Pangeran, maka bersalamanlah Pangeran dengan Datu Aling. “ Alhamdulillah, dari awal saya yakin bahwa tidak sia-sia saya kemarin menemui Datu seorang pejuang hebat ini”. Ucap Pangeran kepada Datu Aling, hingga wajah muram Datu menjadi berseri-seri seakan sudah sangat menerima kedatanagn Pangeran. Dan saat itu pula pangeran memperkenalkan kedua anaknya dan Jalil. “ Perkenalkan ini Jalil dari Banua Lima “. Kata Pengeran. Datu Aling pun terkagum-kagum melihat Jalil yang namanya sudah tersiar dimana-mana sebagai tokoh utama perlawan rakyat terhadap Belanda di Banua Lima. Datu sangat kagum ternyata Jalil adalah anak seorang anak muda, namun namanya sangat disegani dan sering disebut oleh orang-orang terlebih tentang perlawanannya terhadap penjajah. Datu Aling sangat mengaku sangat senang bisa bersalaman dengan Jalil.

Pada kesempatan selanjutnya pada hari itu juga, Gusti Mat Said, Gusti Mat Seman, Jail serta Sambang dan beberpa orang lainnya menuju ke balai tempat beberapa orang dari Antasri dan warga Muning sudah berkumpul di sana untuk membicarakan bergabungnya warga Muning dengan pasukan Pangeran Antasari. Tinggalah Datu Aling bersama Antasari, yang kemudian menyusul yang lain ke balai berdua beriringan sambil berbincang.

Datu Aling bertanya. “ untuk apa atau siapa sebenarnya kita ini berjuang ?”. Pangeran Antasari meloleh ke arah Datu yang berada di sampingnya dengan senyuman dan penuh wibawa. Pangeran Menjawab “ Kita berjuang untuk menegakkan kembali kemerdekaan negeri ( Banjar ), memperjuangkan keadilan dan  syariat agama yang telah lama diinjak-injak Kompeni. Perjuangan ini bukan untuk saya, melainkan untuk rakyat dan agama. Memang banyak orang-orang mengatasnamakan rakyat dan agama untuk memperoleh keuntungan dan kekuasan. Kepada saya pun sering dituduhkan seperti itu. Tapi demi Allah, bukan itu tujuan perjuangan saya. Kerajaan ini sudah lapuk dari luar dan dari dalam. Dari luar dirusak oleh Kompeni dan dari dalam dirusak oleh perpecahan dari pemimpin-pemimpin kerajaan itu sendiri. Perebutan kekuasaan antar penguasa kesultanan sebenarnya tidak akan menguntungkan siapa-siapa, yang untung sebenarnya adalah pihak ketiga, yaitu Belanda”.

Akhirnya Datu Aling pun mengerti tentang apa yang dia perjuangkan selama ini, bukan hanya tentang kekuasaan yang akan direbut rakyat, bukan hanya semata-mata perjuangan untuk rakyat Muning, dan bukan perjuangan ini sebagai balas dendam antar keluarga kesultanan yang konflik. Namun perjuangan ini semata-mata hanya untuk “ Rakyat”.by. Arif Riduan

*Bahan Bacaan " ANTASARI; SEBUAH NOVEL SEJARAH Karya Helius Sjamsuddin

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Manaqib KH. Basyirun Ali, Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin

  Manaqib Syekh KH. Basyirun Ali, Pendiri Pondok Pesantren Nurul Jannah Banjarmasin Penulis Arif Riduan, S.Sos.I Alumni ponpes Nurul Janna...