Jumat, 07 April 2017

Tiga Pangeran Tua Kesultanan Banjar : Kisah Perang Banjar





ilustrasi perang Banjar - foto net
Konflik perebutan kekuasaan yang terjadi antara keluarga kesultanan Banjar menyebabkan berbagai masalah, diantaranya lembaga kekuasaan kerajaan hampir tidak lagi berfungsi. Lebih-lebih setelah Belanda ikut dalam urusan kesultanan Banjar. Kedatangan Belanda merubah ekonomi, politik, dan sosial.

Sisi lain, dalam hal ekonomi, kebutuhan para penguasa kerajaan ( Kesultanan ) bertambah besar untuk mensejajarkan tingkat hidup mereka dengan orang-orang asing, sedangkan penghasilan mereka semakin sedikit, bahkan sangat berkurang. Langkah satu-satunya ialah adalah meningkatkan pajak dua kali lipat, untuk melingdungi status mereka di mata rakyat.

Cara demikian mengakibatkan munculnya peraturan sosial dan politik menjadi timpang, serta sangat memberatkan rakyat yang hanya mayoritas bertani dan pedangan kecil. Kepincangan ini mengakibatkan mereka ( Kesultanan Banjar ) dianggap telah melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Banjar. Keadaan ini pulalah yang menumbuhkan perlawanan rakyat terhadap Belanda, juga kepada Sultanan Banjar.



------------------
 
Pangeran Hidayatullah - Foto Net
Rumah kesultanan tampak sepi, karena ini adalah waktu sholat magrib dan orang-orang berbondong-bondong menuju langgar untuk melaksanakan sholat Magrib. Gusti Mat Said, putera Pangeran Antasari menyelinap diam-diam masuk ke kediaman Mangkubumi Kesultanan, yakni Pangeran Hidayatullah. Dalam rumah Gusti Mat Said bertemu keponakannya, yakni puteri Pangeran Hidayatullah yang bernama Bintang. “ eh Bulan “. Sapa Mat Said. “ Bukan, paman, saya Bintang, bukan Bulan. Sahut Bintang.

Bulan adalah saudarinya Bintang. Bulan kini sudah pindah mengikuti suaminya Pangeran Amir di Martapura. Sebenarnya pernikahan Bulan dengan Amir ini sangat tidak disetujui oleh ayahnya Hidayatullah, juga saudaranya Bintang. Meraka hanya melihat pernikahan ini hanyalah keterpaksaan Sultan Tamjid ( ayahnya Amir ) yang didesak oleh pihak Belanda. Pihak Belanda menilai pernikahan Bulan dengan Amir putera dari Sultan Tamjid akan bisa meredam pemberontakan rakyat yang tidak suka dengan Sultan Tamjid, sehingga posisi Belanda pun akan sedikit aman. Sultan Tamjid sangat tidak disukai oleh rakyat, hanya karena kekuasaan ia rela mengabdikan diri dan kesultanan kepada Belanda. 

Kedatangan Mat Said bermaksud untuk bertemu dengan Pangeran Hidayatullah, namun belum pulang dari langgar, lalu ia berbincang banyak dengan Bulan. “ Banjarmasin seperti sebuah pulau penjara, di mana jiwa-jiwa kita disekap macam penjahat-penjahat besar “. Bulan mengatakan apa yang ia rasakan kepada pamannya Mat Said, dia sadar betul posisinya sebagai keluarga kesultanan mereka sudah tidak lagi disukai oleh rakyat, dianggap penjahat oleh rakyat, seperti halnya penjajah. Padahal apa yang terjadi di sini mereka juga tidak bisa melakukan apa-apa, selain semena-menanya Sultan Tamjid, juga kekuasaan Belanda yang teramat kokoh menguasi tindak-tanduk kesultanan Banjar. 

Datanglah Pangeran Hidayatullah dengan sejadah yang disendangkan di bahu beliau. Meraka bersalaman dan saling menanyakan keadaan sekarang dan Hidayatullah bertanya “ Bagaimana kau bisa kemari ?”. Lalu dijawab oleh Mat Said “ kami menyamar “. Hidayatullah menyahut “ kami ?, maksudmu kamu tidak sendiri, terus dengan siapa ?”. Ternyata Mat Said datang bersama dengan ayahnya, Pangeran Antasari yang menunggu di tempat lain. Lalu Hidayatullah menyuruh Mat said untuk memanggil ayahnya dan Mat Said pergi menjemput ayahnya.
Pangeran Antasari - foto Net

Setibanya Pangeran Antasari di rumah, lalu Mat Said berjaga berjaga di luar. Dan di rumah Pangeran Antasari dan Pangeran Hidayaullah bertemu dan berbincang. “ Alhamdulillah kita bisa bertemu, semoga kita pula selamat hingga pertemuan nanti “. Ucap Hidayatullah. “ Iya, selamat dari rasa takut, putus asa dan penindasan. Dan selamat yang ku maksud bukan semata-mata untuk kita berdua dan keluarga kita, tetapi selamat bagi semua rakyat yang menggantungkan harapannya kepada perbincangan kita ini. Sahut Antasari.

Dari perbincangan mereka sangat jelas bahwa Pangeran Antasari mengajak Pengeran Hidayullah untuk ikut berjuang bersama dia dan rakyat untuk melawan penjajahan. Hidayatullah tampak sangat kebingungan dengan ajakan tersebut, satu sisi dia memang merasa harus memihak kepada rakyat yang sangat ia cintai, namun di sisi lain dia sudah sangat putus asa dengan pertumpahan darah selama ini, korban-korban yang anggap pemberontak oleh penjajah sudah sangat banyak, Hidayatullah tak ingin ada lagi banyak korban. “ Berarti ini adalah pembertontakn besar-besaran ?”. Tanya Hidayatullah. “ pemberontakan adalah bahasa yang dipergunakan oleh Belanda. Ini bukan pemberontakan!, karena Belanda sama sekali tidak penah kita anggap sebagai pemerintah yang sah. Mereka penjajah, ini adalah perang !, perang mengusir penjajah asing !”. Antasari menjawab dengan tegas. 

Tidak bisa disangkal bahwa Hidayatullah begitu sangat mencintai rakyat dan kesultanan Banjar ini. Begitu juga rakyat kepada Hidayatullah. Sehingga banyak pula rakyat yang masih menggantungkan harapan-harapannya kepada Hidayatullah. Dia merasa benci dan jemu melihat pertumpahan darah yang sia-sia, sudah cukup baginya pengorbanan rakyat untuk kesultanan Banjar, sehingga ia tak lagi ingin melihat pertumpahan darah lagi. Sebab itulah pula dia mau diangkat menjadi Mankubumi Kesultanan oleh Belanda.
Pangeran Antasari tetap kukuh mengajak Hidayatullah untuk ikut berjuang melawan Belanda, dengan alasan bahwa Pangeran Hidayatullahlah yang berhak atas waris kesultanan Banjar selama ini, bukan Sultan Tamjid. “ Kita banyak mengaji mengetahui benar dengan Firman Allah: Bahwa Allah Swt tidak akan mengubah nasib kita, jika kita sendiri tidak berusaha untuk mengubahkan”. Tutur Antasari kepada Hidayatullah. 

Hingga pada perbincangan bahwa seluruh pasukan rakyat sudah siap untuk menyerang Pangeran Hidayatullah berpikir bahwa peperangan ini sangat tidak bisa dia redam sama sekali apa lagi setelah mendengar bahwa Pasukan Tumenggung Surapati dari Batiro, Demang Lehman, Temenggung Antaluddin, Haji Buyasin dan Jalil dari Banua Lima serta dengan pasukan tambahan dari Datu Aling dari Muning sungguh sangat mengejutkan Hidayatullah.

Antasari menjelaskan bahwa tugas Hidayatullah adalah memberikan muslihat kepada Sultan Tamjid dan Belanda. Hidayatullah sebagai mangkubimi seakan-akan menjadi peredam perlawanan rakyat terhadap Belanda. Padahal dibalik itu Hidayatullah akan merancang strategi untuk kemenagan rakyat dengan cara memata-matai dan mengelabui Belanda seakan-akan tidak akan ada perlawan dari rakyat. 

Tak lama kemudian Mat Said masuk ke dalam rumah dan mengabarkan bahwa Sultan Tamjib menuju ke rumah Hidayatullah dengan pengawalnya. Mendengar hal itu Antasari tak sama sekali takut, Hidayatullah membujuknya agar pergi dari rumahnya agar terhindar dari Penangkapan Sultan jika dia melihat Pangeran Antasari berada di rumah Hidayatullah. Malah dia mengatakan “ Pantang bagiku untuk lagi “. Pada akhirnya Hidayatullah mengatakan agar Pangeran Antasari segera pergi dari tempatnya “ jangan biarkan rakyat Banjar kehilangan pemimpinnya besarnya sebelum mereka sempat menyalakan meriam pertama mereka “. Mendengar hal itu Antasari menyimpulkan kini Hidayatullah berada dalam barisan pejuang Banjar bersama dengan dia. Dengan perasaan lega Antasari serta anaknya pun beranjak pergi sebelum tiba Sultan di rumah Mangkubumi.

Setibanya Sultan di rumah, “ kau mabuk ?”, tanya Hidayatillah.  “ iya aku habis minum, tapi belum mabuk, kau sudah tau aku terkenang pemabuk, awalnya dapat gelar Pengeran Pemabuk, lalu Mangkubumi Pemabuk, lalu Sultan Muda pemabuk, hingga ada akhirnya Seri Paduka Sultan Tamjidillah Pemabuk, itulah aku. Kau tau kenapa aku suka mabuk ?, dengan mabuk aku bisa melupakan semuanya, mabuk adalah teman setia dan tercintaku “. Kata Sultan Tamjid.

Sultan Tamjid dengan suara terbata-bata karena mabuk berbicara dengan Mangkubumi tentang banyaknya pasukan rakyat Banjar yang bergabung dengan pasukan Antasari untuk menggulingkannya. “ orang macam apa Aling dan Antasari itu kalau bukan pemabuk atau orang gila “. Ucap Sultan. Sultan menanyakan tentang keberpihakan Hidayat selama ini, apakah dipihak kesultanan atau dipihak mereka ( Antasari ). Bahkan Sultan menasehati Hidayat bahwa hidup itu jangan berada di tengah-tengah, kita harus tegas untuk memilih satu pihak. Dan Tamjid menyarankan agar Hidayat untuk berada dipihaknya karena dianggapnya sangat menguntungkan bagi Hidayat dan masa depan kesultanan. 

Bagi Tamjid selama ini rakyat juga tidak pernah senang dengan dia, maka lebih baik dia berpihak pada Belanda. Baginya pula rakyat hanyalah alat dan rakyak sama sekali tidak berarti tanpa ada Sultan. Karena Sultan ada maka rakyat ada. Tamjid mengatakan bahwa Belanda kini mulai mencuringai dia, padahal Sultan Tamjid memang benar-benar di pihak Belanda tetapi masih saja Belanda mencurigai dia, katanya. Dan Hidayat mengatakan kepada Sultan “ Sekarang kau menyesal ? karena sebenarnya kaulah yang menjadi alat mereka “. Dengan muka masam Sultan Menjawab yang masih dalam keadaan mabuk“ Jika ini suatu kenyataan maka sungguh pahit untukku menerima kenyataan ini “.
 
Sultan Tamjid juga mengatakan bahwa Belanda telah meminta bantuan beberapa ratus orang dan puluhan kapan perang dari Batavia untuk dikirim ke Banjarmasin untuk menangkap Pangeran Hidayatullah. Awalnya Pangeran Hidayatullah tidak mengubris, dia pikir Sultan hanya menakut-nakuti dirinya, lagi pula Sultan dalam keadaan mabuk. Hidayat pun bertanya untuk apa Belanda meminta bantuan sebanyak itu hanya untuk mengakap dirinya, dia hanya seorang. Sultan menjawab “ mungkin ia memperhitungkan kekuatan-kekuatan yang berdiri di belakangmu”

“ mengapa kau katakan semua ini, Tamjid “. Tanya Hidayatullah. Sultan menjawab “ aku tak tau lagi apa yang harus ku diamkan”. Dalam keadaan hening Sultan berkata lagi dengan muka acuh tak acuh, pula masih keadaan mabuk “ atau karena aku merasa kasian padamu!?. Atau karena kau pada suatu ketika mengalami hal serupa ? atau karena hal-hal yang lain, yang sama sekali tidak ku ketahui!? Huhh ! seharusnya aku tidak peduli dengan semua ini. Biar langit runtuh, dan kesultanan ini terbenam di dasar sungai, aku tidak peduli, akkh.. mengapa aku harus peduli dengan semua ini, sedagkan semuanya juga tidak pernah peduli denganku ? akkh.. sudahlah aku perg !!”. Sultan pun pergi. 

Mendengar apa yang dikatakan oleh Sultan Tamjid, Pangeran Hidayatullah sangat percaya dengan apa yang dikatan oleh Sultan Tamjid, bahwa Belanda akan menangkapnya dengan ratusan pasukan yang telah dimintanya di Batavia. Malam itu juga Pangeran Hidayatullah bergegas pergi dari rumahnya bersama Bintang puterinya. Puterinya sangat senang ketika mendengar perkataan ayahnya “ Aku memikirkan apa yang dikatakan oleh kakekmu Antasari“.

Bahan Bacaan " ANTASARI : SEBUAH NOVELSEJARAH Karya Helius Sjamsuddin



 

Kamis, 06 April 2017

Datu Aling Dari Muning, Berjuang Untuk Rakyat


ilustrasi - sumber net

Konflik perebutan kekuasaan yang terjadi antara keluarga kesultanan Banjar menyebabkan berbagai masalah, diantaranya lembaga kekuasaan kerajaan hampir tidak lagi berfungsi. Lebih-lebih setelah Belanda ikut dalam urusan kesultanan Banjar. Kedatangan Belanda merubah ekonomi, politik, dan sosial.
Sisi lain, dalam hal ekonomi, kebutuhan para penguasa kerajaan ( Kesultanan ) bertambah besar untuk mensejajarkan tingkat hidup mereka dengan orang-orang asing, sedangkan penghasilan mereka semakin sedikit, bahkan sangat berkurang. Langkah satu-satunya ialah adalah meningkatkan pajak dua kali lipat, untuk melingdungi status mereka di mata rakyat.

Cara demikian mengakibatkan munculnya peraturan sosial dan politik menjadi timpang, serta sangat memberatkan rakyat yang hanya mayoritas bertani dan pedangan kecil. Kepincangan ini mengakibatkan mereka ( Kesultanan Banjar ) dianggap telah melanggar nilai-nilai dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Banjar. Keadaan ini pulalah yang menumbuhkan perlawanan rakyat terhadap Belanda, juga kepada Sultanan Banjar.

Sambang ialah anak muda yang gagah perkasa, cekatan dalam bertarung dan di hormati oleh kalangan masyarakat Muning, Margasari. Dia sangat dihormati kerena dia adalah seorang anak tokoh masyarakat yang menjadi panutan agama juga sebagai panutan masyarakat Muning untuk melawan penjajah Belanda. Datu Aling, itulah namanya, seorang petani yang bisa dikatakan petani yang rajin, ulet, dermawan, berani, dan berwibawa. Maka dari itu Datu Aling dianggap oleh masyarakat sebagai Tetuha Kampung ( tokoh masyarakat ).

Sepulangnya Datu Aling dari petapaannya untuk mencari kekuatan, dan pencerahan di hutan dia bertemu dengan anaknya Sambang di rumah. Sambang sudah satu bulan ke Banjarmasin untuk memata-matai keadaan di sana atas perintah ayahnya Datu Aling. “ Bagaimana, Banjarmasin atau Martapura yang akan kita serbu terlebih dahulu ?. tanyanya kepada Sambang. 

Sambang pun menerangkan kepada ayahnya bahwa Banjarmasin sungguh sangat mustahil untuk ditaklukan oleh ayahnya dan masyarakat Muning, terlebih lagi Belanda juga sudah mendatangkan banyak meriam dan persenjataan lainnya dari Batavia ke Banjarmasin untuk memperkokoh pertahanan dan persenjataan. Ketika Datu Aling bertnya tentang Martapura, Sambang mengatakan bahwa Kesultanan Banjar tidak ada di Martapura, melainkan di Banjarmasin. “ Dasar pengecut, rupanya dia selalu berada bawah ketiak tuannya “. Ucap Datu Aling ketika mendengar bahwa Sultan Tamjid dan keberadaan Kesultanan bukan di Martapura melainkan di Banjarmasin yang tentunya di bawah perlindungan Belanda. 

Datu Aling bertanya kepada anaknya bagaimana caranya dia agar tidak tertangkap oleh Belanda dan orang-orang yang memihak kepada Belanda. Padahal setiap orang yang dia utus selalu saja tertangkap dan dibunuh. Sambang menceritakan dia juga sempat tertangkap oleh tentara Belanda, namun berhasil lolos dari dibantu oleh seseorang yang menyelamatkan dirinya. Ayahnya pun sangat senang dan sangat ingin sekali menjumpai orang yang telah menyelamatkan nyawa anaknya.

“ Ayah, saya dengar ayah akan menobatkan diri sebagai Menembahan ( pemimpin ), lalu ayah ingin meruntuhkan kekuasaan Kesultanan Tamjid dan setelah itu menobatkan diri sebagai Sultan Banjar yang baru, apakah itu benar ?”. Tanya Sambang kepada ayahnya. Dan ayahnya pun mengiyakan semua itu. Betapa terkejutnya Sambang mendengar hal seperti ini dan kecewa kepada ayahnya. “ Ayah ini adalah puncak dari segala kegilaan !!”. Ucap Sambang. Bahkan Sambang mengatakan kepada ayahnya, kita tidak lebih dari sepasang orang-orang gila, gila kehormatan, gila harta, gila kekuasaan. Untuk menggapai kegilaan tersebut kita akan mengorbankan perlawanan dan perjuangan rakyat hanya untuk kegiaan ayahnya, yang memang sebenarnya juga membenci Belanda dan Kesultanan Banjar yang selama ini semena-mena kepada rakyat. Namun kebencian tersebut secara tidak langsung menumbuhkan rasa nafsu kekuasaan dalam diri Datu Aling.

Sambang banyak bercerita kepada ayahnya bahwa selama ini dia banyak belajar kepada seseorang tentang arti sesungguhnya perjuangan ini ( perlawanan kepada penjajah ). Dari dia Sambang banyak belajar tentang kemerdekaan dan keadilan, serta juga banyak belajar tentang agama. Sampai pada akhirnya Sambang diajarkan untuk menghilangkan nafsu-nafsu serakah: nafsu memiliki hak orang lain, nafsu menguasi hidup, dan kemerdekaan orang lain. Sambang menganggap nafsu serakah itu kini melekat pada perjuangan ayahnya.
Dia menuturkan kepada Datu Aling bahwa di seluruh wilayah Kesultanan Banjar ini telah telah menyala berpuluh-puluh api perlawanan terhadap penjajah, yang mungkin kabar ini tidak pernah mereka dengar sebelumnya. Perlawanan tersebut ialah untuk kemerdekaan rakyat terhadap penjajah, bukan untuk nafsu kekuasan atau kepentingan segelintir saja. Sama seperti halnya perjuangan rakyat Muning hendaklah mengusung niat sebagai perlawanan kemerdekaan bukan sebagai pengingin tahta kesultanan. Sambang meyakinkan kepada ayahnya, tak layak jika perjungan ini hanya untuk kejayaan ayahnya, akan tetapi adalah untuk kebebasan dan kemerdekaan seluruh rakyat Banjar dari penindasan penjajah dan penguasa yang mena-mena.

Ketika Sambang meminta kepada ayahnya untuk bergabung kepada perjuangan Pangeran Antasari yang selama ini sangat gencar melakukan perlawanan terhadap Belanda, Datu Aling menolak untuk bergabung. Dia juga mengira bahwa perlawanan Antasari sama seperti dia, yakni perjuangan yang unjung-unjungnya adalah tahta yang ingin dimiliki. Terlebih lagi Pangeran Antasari adalah bagian dari Kesultanan tersebut, yang hanya ingin merebut kekuasan dengan cara perlawan terhadap penjajah. Ayahnya tetap menolak tidak ingin bergabung dengan perjuangan Pangeran Antasari, dan ketika sambang mengatakan “ Jika ayah tidak bergabung, maka ayah akan kehilangan laskar-laskar dan rakyat Muning. Karena mereka sudah bergabung kepada Pangeran Antasari atas perintahku “. Mendengar hal itu Datu Aling langsung mencabut Mandau ( parang khas Kalimantan ) dan mendekati Sambang untuk ditebaskan. “ Pengkhianat !!! Kau Khianati ayahmu sendiri !! ”. Teriak Datu Aling. Beruntunglah kala itu adik Sambang yang bernama Saranti yang juga anak Datu Aling. Ketegangan itu pun berhenti. 

Tak lama kemudian rombongan Pengeran Antasari dan kedua anaknya Gusti Mat Said, Gusti Mat Seman, serta membawa Jalil. Awalnya kedatangan Pangeran Antasari tak begitu dihiraukan oleh Datu Aling yang memang tak setuju dengan berbagungnya masyarakat Muning dengan Antasari. Namun setelah keramahtamahan Pangeran, maka bersalamanlah Pangeran dengan Datu Aling. “ Alhamdulillah, dari awal saya yakin bahwa tidak sia-sia saya kemarin menemui Datu seorang pejuang hebat ini”. Ucap Pangeran kepada Datu Aling, hingga wajah muram Datu menjadi berseri-seri seakan sudah sangat menerima kedatanagn Pangeran. Dan saat itu pula pangeran memperkenalkan kedua anaknya dan Jalil. “ Perkenalkan ini Jalil dari Banua Lima “. Kata Pengeran. Datu Aling pun terkagum-kagum melihat Jalil yang namanya sudah tersiar dimana-mana sebagai tokoh utama perlawan rakyat terhadap Belanda di Banua Lima. Datu sangat kagum ternyata Jalil adalah anak seorang anak muda, namun namanya sangat disegani dan sering disebut oleh orang-orang terlebih tentang perlawanannya terhadap penjajah. Datu Aling sangat mengaku sangat senang bisa bersalaman dengan Jalil.

Pada kesempatan selanjutnya pada hari itu juga, Gusti Mat Said, Gusti Mat Seman, Jail serta Sambang dan beberpa orang lainnya menuju ke balai tempat beberapa orang dari Antasri dan warga Muning sudah berkumpul di sana untuk membicarakan bergabungnya warga Muning dengan pasukan Pangeran Antasari. Tinggalah Datu Aling bersama Antasari, yang kemudian menyusul yang lain ke balai berdua beriringan sambil berbincang.

Datu Aling bertanya. “ untuk apa atau siapa sebenarnya kita ini berjuang ?”. Pangeran Antasari meloleh ke arah Datu yang berada di sampingnya dengan senyuman dan penuh wibawa. Pangeran Menjawab “ Kita berjuang untuk menegakkan kembali kemerdekaan negeri ( Banjar ), memperjuangkan keadilan dan  syariat agama yang telah lama diinjak-injak Kompeni. Perjuangan ini bukan untuk saya, melainkan untuk rakyat dan agama. Memang banyak orang-orang mengatasnamakan rakyat dan agama untuk memperoleh keuntungan dan kekuasan. Kepada saya pun sering dituduhkan seperti itu. Tapi demi Allah, bukan itu tujuan perjuangan saya. Kerajaan ini sudah lapuk dari luar dan dari dalam. Dari luar dirusak oleh Kompeni dan dari dalam dirusak oleh perpecahan dari pemimpin-pemimpin kerajaan itu sendiri. Perebutan kekuasaan antar penguasa kesultanan sebenarnya tidak akan menguntungkan siapa-siapa, yang untung sebenarnya adalah pihak ketiga, yaitu Belanda”.

Akhirnya Datu Aling pun mengerti tentang apa yang dia perjuangkan selama ini, bukan hanya tentang kekuasaan yang akan direbut rakyat, bukan hanya semata-mata perjuangan untuk rakyat Muning, dan bukan perjuangan ini sebagai balas dendam antar keluarga kesultanan yang konflik. Namun perjuangan ini semata-mata hanya untuk “ Rakyat”.by. Arif Riduan

*Bahan Bacaan " ANTASARI; SEBUAH NOVEL SEJARAH Karya Helius Sjamsuddin

Senin, 03 April 2017

Tiga PR Besar PMII Banjarmasin - Oleh : Arif Riduan

Tiga PR Besar PMII Banjarmasin
Oleh : Arif Riduan

Berbicara tentang keberadaan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di Kalsel, khususnya Banjarmasin tentu juga berkaitan dengan sejarah di dalamnya. Setelah dideklarasikannya PMII pada tanggal 17 April 1960 di Surabaya, maka timbul hasrat dari para mahasiswa Nahdiyyin Banua untuk mendirikan cabang PMII di Banjarmasin. Mahasiswa yang kebanyakannya dari mantan aktivis IPNU dan GP Anshor, bahkan pengurus NU sendiri sangat bulat tekatnya, maka pada bulan Juni 1960 para aktivis yang diantara, Hasbullah Nasir, Bahdar Rasyidi, Mahlan Umar, Jamaah Ijab, Marhani dan beberapa orang lainnya sering mengadakan pertemuan untuk membicarakan pembentukan cabang PMII di Banjarmasin bersama beberapa mahasiswa dari IAIN Antasari dan IKIP (sekarang FKIP ULM).

Pada tanggal 9 September 1960 dibentuk panitia persiapan pembentukan PMII Cabang Banjarmasin. Dan pada 12 Januari 1961 secara resmi PMII cabang Banjarmasin disahkan oleh Ketua Umum PB PMII pertama H. Mahbub Djunaedi. Setelah berdirinya PMII di Banjarmasin lalu meluaslah PMII yang ada di Banua, hingga berdiri cabang-cabang lain, Amuntai, Banjarbaru, Kotabaru, Barabai, Tabalong dan Barito Kuala. 

Dalam eksistensinya kader-kader PMII Banjarmasin hingga sekarang selalu menjadi penggerak diberbagai bidang kegiatan kemahasiswaan, baik secara internal kampus maupun secara eksternal kampus. Bahkan menyandang gelar sebagai kader PMII adalah sebuah kebanggan bagai aktivis-aktivis PMII yang berkegiatan di kampus maupun di luar kampus. Dan juga menjadi kontrol sosial terhadap pemerintah, serta banyak perannya pula di dalam kegaiatan-kegiatan sosial.

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia yang juga sebagai bagian dari Nahdatul Ulama (NU) tentunya pula memiliki tanggung jawab untuk mengembangkan masyarakat seperti halnya NU, setidaknya PMII menanamkan 3 karakteristik wawasan beragama, Pertama, Sikap moderat (tawassut), mengambil sikap jalan tengah. Kedua, sikap toleran (tasamuh). Dan ketiga, sikap harmoni (tawazun) dalam artian selaras dalam menilai, selaras dalam berpikir, bersikap dan berntindak. 

PMII di Banua dulu hingga kini merupakan salah satu pemasok kader NU, karena pada umumnya dan kebanyakannya kader-kader NU yang ada di Kalsel ialah dari kaderisasi PMII Banua. Sehingga dalam artian lain, PMII adalah pintu gerbang lahirnya generasi-generasi NU yang ada di Banua dengan segala aktivitas dan pemikirannya. Maka dari itu PMII di Banua sangat penting sekali perananya untuk membentuk masyarakat Banua untuk lebih baik dengan segala kearifan lokal dan sosial-budaya, namun tetap masyarakat yang beragama, beradab, toleran dan cinta akan NKRI. 

Sejalan dengan itu, KH. Syarbani Kaira, di sela-sela sambutannya pada peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad Saw oleh Pengurus Cabang PMII Banjarmasin, beliau mengatakan, setidaknya ada tiga PR besar PMII Banjarmasin saat ini. Yang pertama, pembentukan kaum intelektual dari kader-kader PMII. Kedua membentuk jiwa-jiwa wiraswasta atau pengusaha. Dan yang ketiga, membangun kader-kader aktivis-politik.

Benar saja, bahwa PMII harus melahirkan kaum-kaum intelektual di masa yang akan datang dari sekarang, dari awal pengkaderan PMII sudah harus mempersiapkan kader-kader yang nantinya akan diharapkan akan menjadi intelektual Islam yang berlandaskan ahlusunnah waljamaah yang mampu menjadi acuan kehidupan masyarakat modern yang akan datang, dimana paham-paham tidak jelas bahkan sesat mulai menggerogoti akidah Islam dan paham nasionalisme yang sudah mengakar di bumi nusantra sejak dulu. Dan hendaklah nanti menjadi akdemisi guna meneruskan estafet pemikiran dan paham tawassut, tasamuh, tawazun. Hal ini bukan barang mudah untuk wujudkan, namun setidaknya dapat dimulai dengan diskusi rutin, menulis dan membaca.

Sebagaimana yang disebutkan oleh KH. Syarbani Khaira yang juga alumni PMII dan juga sebagai Ketua PWNU Kalsel mengatakan bahwa PMII Banjarmasin harus membangun jiwa-jiwa wiraswasta dari sejak dini. Wiraswasta saat ini memang sangat dianggap mampu untuk menyingkirkan pemikiran bahwa setelah kuliah itu harus menjadi pegawai pemerintah atau bekerja di perusahaan, yang sebenarnya yang menjadi hakikat mahasiswa ialah selain sebagai karier di masa depan juga sebagai masyarakat intelek yang diharapkan mampu memberikan perubahan yang lebih baik pada masyarakat, terlebih lagi bagi seorang aktivis PMII yang tentu ketika kembali ke masyarakat sangat diharapkan pengalaman dan ilmu untuk membangun masyarakat yang lebih baik.



Terakhir ialah, PMII juga mesti membangun kader-kader aktivis, baik aktivis sosial maupun aktivis politik. Tentu saja hal ini dirasa sangat perlu, karena hadirnya PMII diharapkan bukan hanya membangun masyarakat dari sisi agama, namun juga harus dengan sejalan dengan tatanan sosial sebagai masyarakat yang berdaulat dan bernegara.


Si Halaban Di Telaga Air Bertuah, Naskah Drama Teater, Cerita Legenda Banjar

  Si Halaban Di Telaga Air Bertuah Legenda Gunung Bajuin *Terinspirasi dari cerita rakyat legenda Halaban dan Telaga Banyu Batuah Gunung Baj...