Jumat, 21 Oktober 2016

Jalan-Jalan Sembari Bakti Sosial Di Pegunungan Meratus ( sebuah catatan perjalanan bersama LK3)



            Alunan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh sahabat-sahabat Pemuda Antar Iman ketika makan siang bersama masyarakat telah selesai masih terniang dalam ingatan. Ketika itu Paula, Basit dan Clara menyanyikan beberapa lagu andalan mereka masing-masing secara bergantian untuk menghibur peserta bakti sosial yang diadakan oleh Lembaga Kajian Keislaman dan Kemasyarakatan ( LK3 ) Banjarmasin di Kampung Balai Bidukun Desa Malinau Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

            Nampak ada rasa malu-malu di wajah mereka ketika bernyanyi. Diawali sahabat saya Abdul Basit yang menyanyikan lagu Mungkin Nanti ( Peterpan ) dan lagu Tanah Papua yang sedikit dirubah liriknya, untuk menyesuaikan tempat; karena lagi berada di Loksado bukan di Papua, Basit menyanyikannya bersama sahabat saya Paula. Dengan antusias dan agak sedikit mengolok-ngolok canda Kaka Ariel (sapaan akrab Abdul Basit) para peserta lainnya juga ikut bernyanyi bersama-sama. Lagu berikutnya dinyanyikan oleh sahabat saya Clara, yakni lagu dari Kerispatih yang berjudul Demi Cinta. Walaupun Clara bilang ‘terpaksa bernyanyi’ namun penampilannya cukup menghibur para peserta serta para warga yang menontonnya di pelataran rumah dari kejauhan.

            Masyarakat Kampung Balai Bidukun begitu antusias menyambut kami-perserta Bakti Sosial dengan keramahan mereka. Kami yang terdiri dari Pemuda-pemudi dari berbagai Organisasi Kemahasiswaan, baik itu PMII, HMI, GMKI, PMKRI, KMHDI dan organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan lainnya termasuk perwakilan dari BEM STAI Darul Ulum Kandangan terkesima melihat keramahan Masyarakat Dayak Meratus ini. Masyarakat tak segan-segan menyapa kami terlebih dahulu dan tak segan-segan berbagi cerita kepada kami.

            Sebelumnya, sekitar 30 orang peserta berangkat dari Banjarmasin mengunakan bus yang difasilitasi oleh panitia  dari LK3. Setelah berada di Daerah Kabupaten Tapin kami mampir sejenak untuk beristirahat dan makan siang. Mulai di sana kebersamaan peserta terlihat, ketika duduk bersama di tanah tanpa alas, makan bersama-sama serta gelak tawa dan canda seakan-akan menjadi hiburan tersendiri ketika kami berada di bawah pohon-pohon karet kali ini. Pejalananpun kami lanjutkan setelah makan siang selesai. Saat menuju Loksado sahabat-sahabat dari STAI Darul Ulum Kandangan yang juga menjadi peserta Bakti Sosial LK3 menyambangi bus yang kami tumpangi. Ada sekitar 15 orang; mereka yang mengunakan sepeda motor ikut membantu dengan membonceng sahabat-sahabat peserta yang mulai mual berada dalam bus untuk menuju Desa Malinau.

            Setelah sampai di Desa Malinau, kami harus berganti tumpangan dari bus ke mobil bak terbuka jenis pick up karena medan yang sangat terjal dan tak memungkinkan untuk bus melewatinya. Dengan bersesakan, bukan hanya sesak dengan sesama peserta akan tetapi juga bersesakan dengan barang bawaan kami yang  segunung, terlebih lagi barang bawaanya peserta perempuan “ sudah seperti mau pindahan rumah” semua barang dibawa oleh mereka, termasuk make up. Kebersamaan yang diiringi canda dan tawa yang terdengar lucu serta menghibur di sepanjang perjalan yang seakan-akan seperti terombang-ambing gelombang lautan ditengah badai.

            Rasa penatpun mulai hilang saat kami tiba di Kampung Balai Bidukun. Suasana perkampungan yang jauh dari hiruk-pikuk kota serta senyuman masyarakat yang menyambut kami dengan ramah. Pijakan kaki pertama di Kampung Balai Bidukun kami awali dengan sesuatu yang sakral, yang tak boleh untuk ditiadakan, yakni berfoto. Wajah-wajah yang kusam, rambut-rambut yang berantakan serta mata-mata yang sayup mulai pasang gaya; yang menurut mereka adalah gaya berfoto terbaik didiri mereka. Yang awalnya malu untuk berkenalan di bus mulai berkenalan, yang awalnya malu untuk bilang ingin buang air besar mulai mencari toilet, tak terkecuali yang awalnya malu buang kentut mulai mencari korban untuk dikentuti.

            Senja tiba perut mulai menunjukan tanda-tanda harus ada sesuatu yang mesti dimakan. Fadli dan sahabat-sahabat yang lain menuju kebun milik warga untuk meminta ubi kayu yang ada dikebun. Sedangkan sahabat-sahabat yang lainnya menyiapkan api serta peralatan memasak dari warga sekitar Langgar Darul Hijrah tempat kami beristirahat. Fadli dan yang lainnya pun kembali dengan membawa beberapa bongkah ubi kayu yang diambil dari kebun milik masyarakat. Ubi kayu dibersihkan, perapian dinyalakan dan semua peratan telah siap pakai. Tak lama menunggu ubi kayu goreng pun siap disantap dengan bumbu khas tradisional-modern (yang saya maksud ialah royko rasa ayam).

            Sekitar jam 8 malam, Balai adat Bidukun mulai disambangi para sahabat peserta bakti sosial dan juga kepala adat, tokoh-tokoh adat, pemuda-pemudi, anak-anak serta masyarakat Dayak Kampung Balai Bidukun juga berkumpul di balai tersebut. Pertemuan antar lapisan masyarakat Dayak Kampung Balai Bidukun dan peserta bakti sosial bukan hanya sekedar silaturrahmi dari agenda LK3 selaku panitia pelaksana bakti sosial, namun juga diisi dengan sosialisasi pelayanan publik dari Ombudsman perwakilan Kalimantan Selatan yang mencoba mendengarkan aspirasi serta pengaduan masyarakat tentang pelayanan publik di kampung maupun pelayanan desa mereka, yakni Kampung Balai Bidukun Desa Malinau. Dari perbincangan, maka terkemukalah masalah yang selama ini dialami oleh masyarakat, yakni akses jalan menuju perkampungan mereka yang sangat rusak, namun untuk pengajuan proposal atau permintaan bantuan kepada pemerintah selalu tidak  direspon dan tidak ditangani. Pada malam itu pula, peserta baksos laki-laki juga berbagi cerita dan pengalaman kepada pemuda Kampung Bidukun. Begitu pula halnya peserta perempuan, yang berbagi cerita serta pengalaman mereka kepada pemudi Kampung Balai Bidukun. 

            Banyak yang kami dapatkan, yang selama ini kami sama sekali tak mengetahuinya. Seperti halnya pemuda-pemudi yang tidak besekolah lantaran minder dan tak percaya diri untuk bersekolah di luar kampung mereka. Mereka merasa anak dari kampung dan sering diejek ketika bersekolah di Kota. Apalagi untuk masalah kepercayaan ( agama ) yang mereka anut “ Kaharingan” sangat dipermasalahkan ketika mereka duduk dibangku sekolah. Begitu pula ketika mereka beranjak keperguruan tinggi, mereka disuruh memilih salah satu agama yang diakui oleh Negara dan menanggalkan kepercayaan yang mereka anut.

            Hati seakan iris mendengar semua berita yang sama sekali tak pernah ku dengar. Padahal kepercayaan yang mereka anut ini sudah ada sebelum Indonesia yang kita cintai ini terwujud dan didalam beragama itu sama sekali tidak ada kata paksaan kepada  penganutnya. Memilih kepercayaan pada hakikatnya ialah Hak Asasi Manusia dan tugas negaralah yang menjaga keseimbangan dan perdamaian serta tugas para tokoh agama-agamalah yang membentuk diri pribadi kaumnya untuk memiliki jiwa toleransi beragama. Cukuplah aku pejamkan mata yang mulai mengantuk disuasana dingin malam itu dan apa yang ku dengarkan malam itu, ku sampaikan kepada Tuhan melalui doa.

            Sebelum peserta mengambil posisi masing-masing untuk beristirahat dan tidur, semua peserta dikumpulkan oleh kakak Abdani Sholihin yang sering disapa “ Bang Dhani” atau “Kaka Pemuda”. Dengan arahan Bang Dhani satu persatu peserta baksos maju kedepan untuk memperkenalkan diri mereka. Ada yang tampak malu-malu, ada yang tampak malu-malu mau dan ada juga tampak seperti orang yang tak tahu malu. Awalnya belum kenal karena belum sempat kenalan, jadi kenal. Disadari ataupun tidak perkenalan pada malam itu masing-masing peserta telah memiliki kenalan baru dan sahabat yang baru. Semakin memiliki banyak sahabat maka hidup akan semakin berwarna dan indah, itu yang saat itu ada dalam benak pikiranku. Setelah itu kami pun maing-masing mengambil posisi untuk tidur, karena jam sudah menunjukan pukul 11:30 malam, artinya kami harus istirahat agar bisa melanjutkan kegiatan berikutnya dengan semangat.

            Tidur yang lelap terusik dengan cuaca yang amat dingin. Selimut sekali pun tak mampu mengatasi serangan cuaca dingin yang diiringin suara-suara ayam yang berkokok tandanya peserta harus beranjak dari tidurnya dan pertanda umat Muslim untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang hamba Tuhan.

            Ketika langit mulai terang peserta maupun panitia dari LK3 bersiap-siap untuk kegiatan selanjutnya, tentunya setelah mandi dan memakai baju kaos yang telah dibagikan oleh panitia untuk peserta. Peserta dan panitia yang siap dengan baju kaos yang sama (sudah seperti kampanye partai) berkumpul di depan Langgar Darul Hijrah Kampung Balai Bidukun. Sebagian peserta, terlebih peserta perempuan bersama panitia dan ibu-ibu sekitar menyiapkan makan siang di depan Langgar Darul Hijrah. Sebagian peserta lainnya, diantara Bonek, Saidul, Tyo dan lainnya gotong-royong bersama warga memperbaiki lapangan bulu tangkis dan mengecetnya dan saya berserta sahabat-sahabat yang lain, seperti Ririn, Paula, Subli, Dede, Nana dan lainnya menyiapkan kegiatan perlombaan yang akan diadakan untuk anak-anak kampung Bidukun.

            Saat semuanya berkumpul; peserta, panitia dan warga untuk menyantap masakan yang aromanya menggoda indera penciuman saya pun mengambil gitar dan meminta sahabat-sahabat yang lainnya untuk bernyanyi bersama. Referensi pengetahuan chord  lagu-lagu yang banyak saya tidak ketahui membuat saya bingung untuk memainkan lagu apa yang mau dinyanyikan. Tak lama setelah beberapa lagu yang kami lantunkan tibalah saatnya makan siang, perut yang lapar sentak menghentikan lagu-lagu yang kami lantunkan. Kami pun makan bersama-sama, juga dengan masayarakat sekitar.

            Perut yang lapar sudah kenyang, tiba saatnyalah para vocalis unjuk kebolehan bakat mereka Basit, Paula dan Clara secara bergantian menyanyikan lagu-lagu andalan mereka masing-masing. Suasana hening menjadi semarak saat penampilan mereka yang sudah seperti artis papan atas dan tidak kalah dengan penyanyi-penyanyi dari Indonesia Idol maupun vocalis band terkenal lainnya. Bernyanyi bersama, tertawa bersama melihat tingkah konyol vocalis andalan ( Basit ) saat bernyanyi menjadi kebersamaan tersendiri bagi kami dan lagi-lagi disadari atau tidak hal tersebut semakin mempererat ikatan kebersamaan Pemuda Antar Iman yang tergabung dalam peserta bakti sosial yang diadakan oleh LK3.

            Selang beberapa lama kemudian, saya dan para peserta laki-laki lainnya bersama warga menuju ke dalam hutan untuk membersihkan bendungan yang sudah mulai kotor. Bendungan tersebut digunakan warga untuk mengalirkan air bersih untuk kebutuhan warga Kampung Desa Bidukun, mulai dari buang air sampai memasak. Air bersih yang dialirkan ke rumah-rumah warna dan bak besar untuk menampung air sudah seperti air-air yang mengalir melalui pipa-pila layaknya buatan PDAM. 

            Gotong-royong membersihkan lumpur dan kotoran serta sampah yang ada di dalam bendungan tersebut. Batu-batu besar yang menutupi aliran air kami singkirkan. Dan keisengan sahabat saya yang bernama Bonek (nama asli)  mulai terlihat. Awalnya, badan Bonek yang penuh lumpur dan tanah memeluk Ricky yang saat itu tidak memakai baju, maka keisengan tersebut menjalar kepada sahabat-sahabat lainnya. Saking kalahnya sahabat saya Aldy dengan Bonek yang melumuri badan Aldy dengan lumpur, saat Bonek mencoret wajahnya sendiri dengan lumpur agar terlihat keren seperti orang-orang pedalaman, sontak Aldy pun berkata “ Bonek itu mencoret muka dan badannya bukan karena ingin terlihat keren ! tetapi untuk menutupi panu yang menyebar di badannya , wahahahahaha!!, kami pun tertawa dengan sangat lepas, tentunya menertawakan Bonek yang saat itu melumpuri badan kami kami. Dengan senyum-senyum yang disimpan dan tertawa kecil yang hampir tak terdengar, warga yang juga membersihkan bendungan ikut menertawakan Bonek setelah mendengar guyonan Aldy tersebut.

            Wajah dan badan yang cemong penuh lumpur masih kami sempat-sempatkan untuk berfoto eksis, bermacam gaya kami peragakan. Mulai dari gaya terjelek sampai gaya pose yang sok cool (Saidul). Yang lebih mengherankan lagi Bang Dhani ternyata takun sama cek-becek, dengan alasan bertugas mendokumentasikan kami yang sedang becek-becekan dengan kamera, padahal tidak suka becek, wajar saja, kan beliau rada gimana gitu, takut kulitnya rusak. Beberapa lama kemudian, bersih-bersih bendungan pun selesai, bergegas kami yang cemong mengambil peralatan mandi dan menuju kesungai, tentunya dengan diiringi gelak-tawa yang selalu hadir di dalam kebersamaan kami.

            Ada pemandangan yang unik saat kami membersihkan diri di sungai Kampung Balai Bidukun yang bersih dan sejuk. Saat itu ada Mak Haji yang juga ikut mandi ( maksud saya si Fajar, Si Gimbal yang sedang mandi berendam dengan Bandana di kepala; persis seperti wanita tua yang sedang mandi memakai penutup rambut), momen tersebut mengundang gelak tawa yang menghibur untuk menghilangkan penat kami. Ketika kami mulai mandi, saya di samping Aldy berendam, dia pun mengatakan “ Rif, kamu merasa gak airnya panas ?”. Saya tahu apa yang dia maksud, dia sedang buang air kecil, saya hanya tersenyum kecil, padahal saya juga buang air kecil sejak tadi.

            Waktu jugalah yang memaksa kami untuk beranjak pergi dari Kampung Balai Bidukun. Karena agenda kegiatan kami yang berikutnya sudah menanti. Dalam agenda selanjutnya kami akan menuju Balai Malaris untuk mengadiri acara adat Aruh Ganal yang diadakan oleh masyarakat Dayak Meratus sebagai rasa syukur ketika musim panen. Sebelum berangkat ke Balai Malaris, kami beserta semua peserta bakti sosial dan panitia dari LK3 berfoto bersama tokoh-tokoh masyarakat, anak kecil serta pemuda Kampung Balai Bidukun. Bersamaan dengan itu pula panitia menyerahkan kenang-kenangan berupa peralatan olahraga untuk masyarakat khususnya olahraga bulu tangkis.

            Bus yang kami tumpangi kemaren telah menunggu di dekat Kantor Kepala Desa Malinau dan siap untuk mengantar kami menuju ke Balai Malaris, dimana acara Aruh Ganal dilaksanakan. Dengan lantunan lagu-lagu yang nyanyikan oleh sahabat-sahabat yang berada dibagian belakang bus setia mengiringi perjalan hingga sampai di Desa Tanuhi. Untuk mencapai Balai Malaris kami harus menumpang mobil pick up, karena bus tidak memungkinkan untuk melewati jalan yang sempit.

            Setibanya di depan jembatan gantung menuju Balai Malaris yang rusak akibat diterjang banjir, kami pun harus berjalan kaki sekitar 2 km untuk menuju lokasi. Sekitar pukul 8:00 malam kami tiba di Balai Malaris. Pemandangan yang tak pernah saya lihat memanjakan mata yang lelah, ratusan masyarakat berkumpul di dalam balai tersebut; saling bercengkrama, dan makan bersama. Tua maupun muda membaur dalam kebersamaan untuk melaksanakan Aruh Ganal yang diadakan sebagai rasa syukur atas panen tahun ini oleh masyarakat Dayak Meratus. Kekagumanku akan kebersamaan mereka (masyarakat dayak) malam itu membuatku berpikir ‘seandainya seluruh rakyat Indonesia seperti ini, semuanya akan sangat indah’.
 
            Pukul 9:30 malam, suara gendang terdengar dan ku lihat seeorang yang berdiri di tengah-tengah arena Balai Malaris seperti ingin menari. Seseorang tersebut menghentakan kakinya mengiringi suara gendang yang dimainkan beberapa orang dipinggir arena, sontak beberapa orang dewasa serta anak-anak juga beramai-ramai menari dengan hentakan kaki yang sama mengelilingi arena ditengah balai. Tarian itu disebut dengan Batandik.

            Melihat keseruan para pemuda menari menggugah rasa sahabat-sahabat saya untuk ikut menari. Ricky, Bonek, Tyo, Fajar ikut menari ketengah arena ikut bergabung untuk menari bersama pemuda yang lainnya. Tarian yang diikuti sahabat-sahabat saya tersebut sontak mengundang tawa, bukan hanya peserta baksos yang tertawa akan tetapi warga yang menyaksikan gerakan-gerakan konyol merekapun juga tertawa melihatnya. Apapun gerakan yang mereka tarikan itu tidak menjadi masalah, karena tarian tersebut adalah tarian pembuka dan tarian dari mereka ( sahabat-sahabat saya ) menjadi hiburan tersendiri bagi yang menonton.

            Mantra-mantra serta doa-doa dikumandangkan oleh kepala Adat dan diikuti oleh beberapa tokoh adat lainnya ketika acara dimulai. Suara gendang mengiringi prosesi Aruh Ganal  sepanjang malam. Bingung memang melihat apa yang mereka lakukan, saya juga tidak tahu apa yang mereka kumandangkan, namun yang pasti acara ini merupakan ungkapan rasa syukur Masyarakat Dayak Meratus atas panen padi yang melimpah. Malam mulai larut, suara gendang dan mantra-mantra masih terdengar, beberapa peserta baksos ssudah terlelap di pinggiran arena acara. Dengan mata yang mengantuk saya pun tertidur sekitar pukul 03:00 pagi.

            Suasana dingin yang teramat dingin membangunkan saya dan sahabat-sahabat yang lainnya. Tepat pukul 6:00 pagi kami mulai berkemas dan berkumpul di depan Balai Malaris untuk menuju Desa Tanuhi. Agenda berikutnya ialah naik rakit menulusuri sungat Amandit Loksado bersama seluruh panitia dan peserta bakti sosial. Sebelum sampai Tanuhi, kami harus berjalan kaki entah seberapa jauh, karena saya tidak mengukurnya; tapi kira-kira sekitar 5-6 kilo meter rasanya kami berjalan. Dan sebelum beranjak pergi, kami pun berpamitan dengan tokoh adat yang ada di sana.

            Rasa lelah terbayar ketika saya berada di atas rakit dan memandang suasana indah yang memanjakan mata. Sambil memakan nasi bungkus yang dibagikan oleh panitia, saya serta dua sahabat saya Basit dan Clara bercanda riya menikmati keindahan alam yang asri. Begitu juga saya lihat denagn sahabat-sahabat yang lain. kegembiraan bisa tampak saya lihat dari wajah-wajah lelah mereka. Clara dan juga Basit yang jago nyanyi mengajak saya untuk membikin musik dari rakit bambu yang saya naiki, segera saya meminta untuk bapak-bapak yang memandu perjalan kami untuk menepi sebentar untuk mencari ranting yang dapat dipukulkan ke bambu agar dapat menghasilkan suara musik. Sembari menyanyi riya kami nikmati perjalan kami diatas rakit hingga tiba dititik persinggahan yang telah direncanakn oleh panitia.

            Rakit yang kami tumpangi pun berhenti begitu juga dan sahabat-sahabat yang lain ada yang duluan sampai dan ada yang datang belakangan. Baju yang basah saya ganti di kamar mandi masjid dimana bus yang kami tumpangi telah menunggu. Dengan perasaan lelah dan penat saya merebahkan diri di ruangan masjid tersebut. Tak peduli jika saya ditinggal bus ketika saya tidur karena mata sangat mengantuk. Sadar tak sadar saya pun tertidur lelap tak peduli lagi apa yang akan terjadi entah mimpi apa yang ada saat saya tidur, saya pun tak ingat. Sesekali saya terbangun dari tidur namun mata masih terpejam dan terdengar sayup-sayup keriuhan canda tawa sahabat-sahabat yang ada diluar masjid, saya berpikir ini berarti saya belum ditinggal, saya pu melanjutkan tidur. Untuk kali kedua saya terbangun lagi dan masih dengan keadaan memejamkan mata, saat itu masih terdengar suara sahabat-sahabat yang ribut diluar. Tak lama kemudian saya terlelap pulas lagi dan akhirnya terbangun lagi untuk kali yang ketiga. Tak ada lagi suara ribut peserta diluar masjid.

            Mata yang masih terpejam namun pikiran saya menyimpulkan bahwa saya sudah ditinggal pulang bus yang sama tumpangi. Sontak saya pun terbangun dan berdiri dengan kedua belah kaki yang tegak serta dengan perasaan yang was-was ditinggal bus. Betapa terkejutnya saya ketika melihat sahabat-sahabat yang tadinya ribut di luar masjid ternyata juga ikut tidur pulas di samping saya di dalam masjid. Saya lagi-lagi berpikir dan menyimpulkan, saking eratnya kebersamaan kami bahkan saat lelah pun kami sama-sama tertidur dengan pulas dan sama-sama tak takut ditinggal bus.

Setelah makan siang, kami dan panitia bergegas untuk pulang kembali ke Banjarmasin. Bus yang semula terdengar riuh dan ribut tak berapa lama menjadi sunyi sepi. Saya lihat wajah-wajah lelah dari lelapnya sahabat-sahabat perserta baksos. Saya tersenyum ketika bayang-banyang kegiatan baksos serta kebersamaan yang kami jalan selama 3 hari kemarin, terlebih lagi ketika mengingat Basit dan Paula bernyanyi dibawah pohon sudah seperti shotting film India. Lelahpun menghampiri, saya pun juga ikut terlelap di dalam keheningan, dan hingga akhirnya tiba di Banjarmasin lagi dengan selamat.Arif

 


berbagi cerita bersama pemuda desa Malinau

mendengarkan keluhan masyarakat


petugas masak

penulis - balai adat Malaris

Asnawi - Balian Adat Dayak Loksado Balai Malaris


sungai tempat mandi

acara aruh ganal


peserta dari STAI Kandangan membantu membawa barang

ganti transportasi


sehabis mencari ubi di ladang

peserta Baksos dan para pemudi Desa




makan bersama masyarakat balai adat bidukun


makan bersama

membersihkan bendungan bersama masyarakat

membersihkan bendungan bersama masyarakat

penulis - membersihkan bendungan bersama masyarakat


Bonek sedang mencoret badan Fadli dengan lumpur


mandi




Menuju balai adat Malaris  desa Loklahung

Menuju balai adat Malaris  desa Loklahung

mengadakan lomba untuk anak-anak desa

mengadakan lomba untuk anak-anak desa

mengadakan lomba untuk anak-anak desa

bidadari mandi ( katanya )



           
           
           
penulis

           

Kamis, 20 Oktober 2016

Sekolah Ngaji ( Sebuah Cerpen )

Sekolah Ngaji
Karya Arif Riduan





cover-ilustrasi, sumber Net, edit penulis


            “ Dir.. Dir.. Khaidir !! Sadang nak cari kupiah sakulah ngaji sana, parak jam setengah tiga dah ni.. ! “ . Seru ibuku ketika menyuruhku untuk pergi mengaji saat aku lagi asik menonton Si Bolang di televisi. Seperti biasanya, ibuku menjadi alaram hidup untuk anak-anaknya. “ inggih ma ! “. Aku pun bergegas mencari peci baru yang kemarin dibelikan oleh ayahku, karena peci yang lama udah usang dan agak sobek sedikit. Melihat anaknya yang sudah siap berangkat ke sekolah ngaji (  Taman Pendidikan Alquran ) mama pun memberikan uang Rp. 1200 kepadaku. Rp. 1000 untuk uang saku jajan, dan Rp. 200 untuk bayar iuaran per-sekali mengaji. Aku pun bergegas menuju sekolah ngaji. “ Ma ! ulun turun ma ai  “ izinku. “ eeh , Jangan kalahi lah, lawan jangan minum es “. Sahut ibuku.
            Sudah menjadi kewajiban bagi seorang anak seusiaku untuk belajar mengaji, itulah yang sudah menjadi kebiasaan di tempat tinggalku. Anak seusia aku ini, yakni 7-8 tahun biasanya di masukan oleh orang tua ke tempat mengaji Alquran, atau yang biasanya kami sebut sekolah ngaji, dan juga bisa belajar privat kepada seorang guru ngaji. Biasanya kalau di sekolah ngaji itu waktunya sekitar jam 3:00 sampai jam 5:00 sore, dan kalau belajar privat ke guru ngaji biasanya sekitar waktu sehabis magrib, atau setelah sholat isya.
            Aku berbeda dengan kakak-kakakku, hanya aku yang belajar ngaji di sekolah ngaji (TPA), sedangkan kakak-kakakku belajar mengaji dengan cara privat ke rumah salah satu guru ngaji di tempat tinggal kami. Setelah sholat magrib banyak anak-anak seusia aku dan seusia kakakku ( Usia SMP ) belajar mengaji ke rumah guru ngaji tersebut selepas sholat Magrib. Nama beliau ialah Kakek Umar Mayah atau sering dipanggil dengan sebutan “ Kai Ngaji “. Dalam mengajarkan Alquran beliau tidak sendirian, Kai Ngaji dibantu oleh istri beliau yang juga akrab dengan sapaan “ Nini Ngaji “ . Di tempat Kai Ngaji ini para murid tidak dipungut biaya sepeser pun dan beliau juga tidak pernah meminta imbalan untuk ilmu membaca Alquran yang beliau ajarkan setiap hari. Namun biasanya para orang tua setiap bulan/minggunya memberi hadiah kepada beliau berupa gula, kopi serta sembako lainnya.
Begitu pula orang tuaku, pada setiap bulannya beliau memberikan beberapa kilo gula kepada Kai Ngaji sebagai rasa terima kasih kepada beliau. Itu pun jika ada uang berlebih yang didapat oleh orang tuaku, jika tidak ada yang diberi maka ditunda dilain hari. Pernah juga dalam sebulan orang tuaku tidak memberikan apa-apa kepada Kai Ngaji karena banyak kebutuhan rumah tangga yang harus dikeluarkan. Kai Ngaji dan istri pun sebenarnya tidak pernah meminta kepada orang tua yang anaknya belajar ngaji di tempat beliau, namun itu sudah menjadi kebiasaan di tempat kami, sebagai ucapan terima kasih kepada seseorang guru.
Beberapa menit berjalan, akhirnya aku sampai di depan sekolah, tempat aku menimba ilmu membaca Alquran. Namun sebelum aku belajar membaca Alquran, aku ( juga anak yang lain ) di wajibkan dulu belajar iqro atau yang kami sebut dengan “ Jilid “. Ada enam tingkatan jilid yang harus kami pelajari sebelum melangkah ke jenjang Alquran, yakni dari jilid 1 sampai ke jilid 6, setelah itu baru kami bisa menyambungnya ke Alquran, dengan bahasa lain untuk bisa membaca Alquran terlebih dulu kami harus mempelajari dasarnya dulu dengan belajar iqro / jilid.
Tidak terasa hari demi hari, aku sudah beranjak ke jilid 2, yakni setelah jilid 1 sudah selesai. Depan sekolah ngaji aku sudah mendengar sayup-sayup lantunan lagu islami yang biasanya kami nyanyikan sebelum memulai pelajaran. Aku pun berlari menuju ruang kelas, sepertinya aku terlambat. Tentu saja setelah aku sampai ke kelas, maka aku langsung duduk di tempat biasanya aku duduk, dan ikut bernyanyi.
“  rukun Islam yang lima ..
Syahadat, sholat puasa ..
Zakat untuk si papa, Haji bagi yang kuasa ..
Siapa tidak sholat ! DOR !!! akan rugi di akhirat
Siapa tak bayar zakat, oleh Allah di laknat”

Inilah  lagu yang kami nyanyikan kali ini bersama ustadz Arul dan ustazah Heny kali ini, lagu rukun islam yang nadanya seperti nada “ balonku ada lima”. Lagu berikutnya ialah lagu yang berjudul “ Aku cinta Allah “ yang nadanya seperti nada lagu “ sayang semua “ namun liriknya yang diubah, entahlah siapa yang mengubah liriknya.

“ Satu-satu aku cinta Allah ..
Dua dua, cinta Rasulullah ..
Tiga tiga sayang ibu bapak..
Satu dua tiga, sayang semuanya … yeeeeeeeeeeeee

            Beginilah ramainya ketika pelajaran ngaji ingin dimulai, kami anak-anak yang rata-rata umur 7-8 tahun seperti aku ini terkumpul di satu kelas, yakni kelas jilid, sedangkan para murid yang sudah tingkat Alquran belajar di kelas sebelah bersama Bapak Haji Marwan dan Bapak Zaini. Kami yang jilid ini dibimbing oleh kakak-kakak dari Pondok Pesantren di sekitar tempat tinggal kami, diantranya ialah kak ustadz Arul dan ka ustadzah Heni dan Munirah.

            Pelajaran pun dimulai, Kak ustadz Arul mulai menuliskan ayat Alquran yang harus kami tulis di papan tulis, tulisan kak ustadz Arul sangat bagus, mungkin karena beliau santri di pesantren yang terbiasa menulis tulisan kaligrafi arab. “ ini tulislah, adding-ading .. tulis sampai habis “. Seru kak ustadz Arul kepada kami. Sedangkan ustadzah Heny dan Munirah duduk depan dan memanggil nama kami satu persatu untuk mengaji dengan bimbingan beliau. Biasanya panggilan itu menurut abjad di buku absen, yakni dari A. “ Ahmadi, dan Afif Rahman “ ustadzah Heny memanggil dua orang dari kami untuk maju ke depan. Sedangkan nama-namanya yang belum dipanggil tetap duduk ditempat sembari menyelesaikan tulisan yang sudah dicontohkan di papan tulis.

            “ Khaidir Malik ! “. Kak ustadzah Munirah memanggil, itu artinya kini giliranku ke depan untuk mengaji dengan bimbingan beliau. Aku pun mengeluarkan uang 200 rupiah untuk membayar iuaran ngaji. “ Nah jilid 2 dah kam Dir ai, rajin-rajin turun mengaji, nyaman capat ke Alquran “. Kak ustadzah Munirah menasihatiku agar rajin mengaji, supaya cepat ke jilid berikutnya dan cepat ke tingkatan Alquran. “ inggih ka “.  Sahutku.

            Ada hal yang unik di sekolah ngaji ini, salah satunya ialah jam istirahat. Jam istirahat di sekolah ini terbilang unik karena tidak ada memiliki patokan jam. Siapa yang sudah selesai mengaji dan selesai menulis maka boleh istirahat. Itulah kenapa sering ada kegaduhan antar murid siapa yang duluan maju ke depan untuk mengaji. Terkadang biasanya sesuai dengan urutan absen, namun kadang pula siapa yang selesai menulis duluan boleh maju ke depan untuk mengambil giliran untuk mengaji. Hal yang unik selanjutnya ialah terkadang seminggu dua kali kami semua murid dikumpulkan di halaman sekolah, bernyanyi lagu-lagu anak islami bersama yang mana hal tersebut dipimpin oleh Bapak Zaini selaku pengurus sekolah ngaji ini. Sehabis menyanyi bersama biasanya beliau bercerita tentang kisah-kisah Islami, seperti kisah Nabi Musa membelah lautan. Kami anak-anak tampak tercengang dengan cerita yang beliau sampaikan, terlebih lagi aku, paling suka dengan yang namanya cerita.
           
            “ Nabi Musa beserta para pengikut beliau berlari karena dikejar-kejar oleh raja yang dzolim, yakni Raja Firaun. Nabi Musa pun terhenti di lautan yang dalam, tidak ada jalan lagi untuk lari. Lalu Nabi Musa berdoa meminta pertolongan kepada Allah Swt, maka saat itu pula Allah Swt mewahyukan agar Nabi Musa memukulkan tongkat yang ada di tangan beliau ke lautan “. Bapak Zaini menceritakan kisah Nabi Musa dengan sangat serius, ditambah dengan gaya dan mimik beliau yang sangat menggambarkan situasi saat itu, seakan akan kami ada di dalam cerita tersebut, membayangkan seakan nyata.  Beliau pun menyambung cerita “ Setelah Nabi Musa memukulkan tongkal ke lautan, seketika itu lautan pun terbelah dari sisi kanan dan sisi kiri sehingga lautan yang dalam menjadi daratan kerana terbelah. Tidak menunggu lama Nabi Musa dan pengikutnya pun berlari menyebrangi lautan yang kini menjadi daratan. Melihat hal tersebut Firaun tercengang, namun masih saja mengejar rombongan Nabi Musa bahkan semakin kencang. Akhirnya rombongan Nabi Musa sudah sampai di seberang, sedangkan Firaun dan anak buahnya masih di tengah laut, maka kembalilah lautan pada semula sehingga menenggelamkan Firaun dan pengikutnya”. Cerita pun selesai, kami kelihatannya gembira mendengar Nabi Musa akhirnya selamat dari kejaran Firaun.

            “ Jadi anak-anak bapak sekalian, perlu diingat bahwasanya Allah Swt akan selalu menolong hamba-hambaNya yang berdoa, semuanya paham ? “ Tutur Bapak Zaini kepada murid-murid yang setadi begitu tegang. ‘ iyaaa paaaaa, paham ! “ sahut kami yang agak sedikit serempak. Begitulah biasanya kegiatan di sekolah ngaji kami. Penuh kecerian, namun juga penuh dengan hikmah pembelajaran tentang ilmu Alquran dan ilmu agama.

            Jam sudah menunjukan pukul 5:00 sore, itu tandanya tiba waktu kami untuk kembali pulang ke rumah. Tak lupa kami membaca doa-doa yang telah kami hapalkan dari ajaran kakak-kakak Ustadz dan Ustadzah yang bergitu sabar mengajarkan kami yang belum paham tentang agama. Terlebih lagi aku, aku bahkan selalu bertanya-tanya di dalam hati apa makna doa-doa yang kami ucapakan ketika memulai dan mengakhiri pelajaran ini. Cukup panjang doa yang kami bacakan, namun aku hanyalah anak kecil yang tak paham dengan makna doa tersebut. Hanya ada satu doa yang ku paham, yakni doa kepada ibu bapak, karena sejak kecil sebelum usia sekolah aku sudah diajarkan oleh ibuku membaca doa tersebut beserta artinya, begitu juga dengan doa sebelum makan dan doa sebelum tidur, hanya itu yang ku paham.

            “ Assalamualaikum !! “. Ucapaku ketika sesampainya di rumah. “ Wa’alaikum salam “. Sahut ibuku sambil mengayun adikku yang masih kecil di ayunan. “ Andak kupiah tu di atas lemari Dir ai, kena abut mencarii kada dapat “. Nasihat ibu kepadaku agar aku meletakkan peci ditempatnya. Seperti biasanya aku sering lupa menaruh dimana peci ku taruh, karena tidak meletakkan ditempatnya. “ kaya apa tadi Dir ? jilid berapa dah mengaji ? “ . tanya ibuku, menanyakan sudah sampai mana aku mengaji. “ ulun sudah jilid 2 ma ai tadi, maa ! maa ! Jar bapak tadi minggu kena tulakan jar ziarah ke Kelampayan “. Sahutku, sekalingus memberi tahukan bahwa hari minggu depan akan diadakan ziarah ke makam salah satu tokoh alim ulama yang ada di Kalimantan, yakni Makan Syekh Muhammad Arsyad Al-banjari atau yang biasanya disebut Datu Kelampayan.

            “ berapa bayarnya Dir ?” ibu bertanya berapa pembayaran untuk ikut ziarah. “ 10.000 ma ai, tulaknya pakai trak Haji Udin “. Sahutku. “ mudahan ai mama ada duit balabih Dir lah, mun kada umpat kada papa jua Dir lo “. Kata ibuku yang mecoba memberiku pengertian bahwa kalau tidak ada uang aku mungkin tidak bisa ikut ziarah. Aku hanyalah anak kecil yang tak paham dengan samua ini, di dalam hatiku aku harus ikut, ibuku harus memberiku uang untuk ikut ziarah, hatiku bergumam seperti itu. Aku belum mengerti bahwa uang begitu sulit dicari, karena ayahku hanyalah seorang penarik becak yang penghasilannya terkadang tidak lebih dari 20.000 rupian dan itu pun hanya untuk keperluan sehari-hari, makan dan uang saku sekolah aku dan kakak-kakakku yang bersekolah di bangku SMP. Ibu pun hanya seorang penjaja Buras atau Lepet ( lapat), yang ketika malam ibu bikin dan paginya ibu jajakan ke warung-warung di pasar. Aku tak tahu persis berapa penghasilan ibu, namun yang pasti penghasilan dari penjualan beras itu hanya mampu untuk menutupi SPP sekolah aku dan kakak-kakakku, susu adikku, dan kebutuhan ruamh tangga lainnya seperti bayar listrik dan memberi air bersih ke Pak RT harun seharga 100 rupiah per-tangki sepuluh liter air bersih.

            Hari sudah berjalan beberapa waktu, tiba saatnya hari ini batas terakhir pembayaran uang 10.000 untuk ikut pergi ziarah ke Kelampayan. Ibuku sepertinya amnesia tentang ziarahku besok, atau mungkin sengaja lupa tentang agenda ziarah sekolah ngajiku besok karena beliau belum memiliki uang untuk diberikan kepadaku, namun aku sekali lagi hanyalah anak kecil yang tak paham dengan semua itu. Dibenakku hanyalah aku ingin ikut pergi ziarah dan ibuku harus memberikan uang kepadaku 10.000 hari ini.

            “ Maa, hari ini terakhir ma ai bayaran gasan isuk ziarah “. Pintaku kepada ibu dengan agak sedikit kesal dan melas. “ Maa ! Maa !, kasi ma, minta duit 10.000, kena ulun kada kawa umpat ziarah isuk “. Mataku mulai memerah dan berkaca-kaca karena masih belum diberi uang oleh ibu. Ibu pun menyahut “ Dir, mama kadada bisi duit nak ai, tadi dijulung abah 10.000 mama tukarakan gasan baras wan iwak, habis duitnya, hadangi ai kalo pina abah kena datang membawa duit”. Aku pun terdiam, bibir terpaku dan mata yang masih berkaca-kaca menahan tangis. Tak menunggu lama, aku yang masih kecil yang tak mengerti apa-apa ini berdiri mengambil peci ditempat biasa aku menaruhnya, setelah itu aku duduk di teras rumah kecilku sambil menunggu ayahku pulang dari menarik becak dan membayangkan ketika ayah pulang memberikan uang untuk aku ikut ziarah besok pagi.

            “ Maaaaaa .. abah lawasnya bulik “. Keluhku yang sudah hampir satu jam menunggu kedatangan ayahku yang tak kunjung datang kepada ibu yang berada di dalam rumah. “ hadangi Dir, abah bulik ai setumat lagi .. “ . ibu mencoba menenangkanku dari dalam rumah. Tidak lama kemudian ayah pun datang dengan becak tuanya. Ayah yang kelihatan lelah, keringat membasahi bajunya sangat terlihat di mataku menghampiri aku, seakan-akan ayah sudah tahu bahwa kau sudah menunggunya dan menunggu uangnya. “ Dir.. nah, hari ini lo hari terakhir bayar gasan ziarah esok tu .. “ . Tanya ayah sembari mengambil uang dari saku kanannya. Ayah pun memberikan uang Rp. 11.200 kepadaku. Rp. 10.000 untuk bayar ikut ziarah, Rp. 1000 untuk aku jajan dan Rp.200 untuk bayar iuran sekolah ngaji per-sekali ngaji.


            Aku yang sejak tadi sudah siap berangkat ke sekolah ngaji langsung mengambil uang yang diberikan oleh ayah, dan menaruh ke dalam tas. Aku pun bersalaman kepada ayah, dan langsung berlari menuju sekolah ngaji karena aku tahu hari ini aku terlambat, karena menunggu ayah datang. Aku berlari sambil membayangkan bahwa aku bisa ikut pergi ziarah bersama teman-teman yang lain besok hari. Setibanya aku di sekolah ngaji aku pun melaksanakan aktivitas seperti biasanya, mengaji, menulis dan membayar iuran harian sekolah ngaji. 

Kamis, 13 Oktober 2016

Bahagia itu benar-benar tak mesti mahal ( sebuah Cerita )

foto Arif Riduan




Bahagia itu benar-benar tak mesti mahal

Saat anak-anak lain bermain di tempat permainan Mall atau swalayan lainnya, ternyata "odong-odong" sepeda motor yang disulap menyerupai kereta api tetap diminati oleh anak-anak serta orang tua anak.

Cukup dengan membayar 5.000 rupiah per-satu orang anak plus pendamping kita sudah dapat menikmati wahana unik ini. Ia berjalan sekitar 1 sampai 2 kilo meter lalu kembali ke tempat semula untuk menaikan dan menurunkan penikmat wahana ini. Murah meriah, seharusnya jenis permainan ini disubsidi oleh pemerintah.

Lebih dari semua itu ada sesuatu yang unik ketika saya sengaja membuntuti kereta ini. Saya membuntuti dengan sepeda motor di belakangnya, dari awal saya tertarik untuk membuntuti kereta ini karena saya melihat dua orang anak sedang berlari mengiringi kereta tersebut. Mereka lari sekencang-kencangnya serta sesekali mereka bergantian untuk menaiki ujung belakang kereta dengan cara bergelantungan. Bahaya memang, tapi inilah anak-anak, tak ada kata bahaya dalam kamus mereka.

Wajah senang dan bahagia tampak sekali pada diri mereka saat berlari mengejar kereta. Dari komplek ke komplek sebelah jaraknya itu tak kurang dari 1 kilo meter, tetap saja mereka berlari, juga sesekali bergantian bergelantungan dibagian ujung belakang kereta ini.

Saya sempat berpikir apa sebenarnya yang terjadi, apakah mereka ingin menaiki wahana ini namun tidak punya uang ?. ataukah sudah kebiasaan mereka seperti ini. Pikiran saya mengarah kepada mereka tidak mempunyai uang.

Ketika kereta itu berhenti di tempat semula untuk menurunkan dan menaikan lagi penumpang yang lain dua anak tersebut masih ada dibelakang kereka itu sambil cengar-cengir entah apa yang mereka bicarakan sehingga saya lihat sesekali dari mereka tersenyum bahkab tertawa.

Saya pun turun dari sepeda motor dan menghampiri mereka. Saya langsung menyodorkan uang 10.000 rupiah kepada mereka dengan maksud memberi agar mereka bisa menaiki kereta yang sejak tadi mereka kejar-kejar. " dek, ini dek ambil buat kalian naik kereta ini". Awalnya mereka agak malu-malu, ya maklumlah orang yang tidak mereka kenal tiba-tiba memberikan uang. Namun salah satu dari mereka mengambil juga uang yang saya sodorkan.

Tanpa mengucapkan terima kasih mereka langsung berlari ke depan tempat dimana pengemudi kereta menagih uang pembayaran untuk naik ke kereta miliknya.

Anehnya bukannya membayar untuk naik kereta ternyata mereka berdua berlari menuju warung yang ada di depan, mereka membeli jajanan yang ada diwarung tersebut. Sedangkan kereta sudah penuh diisi oleh anak-anak dan orang tuanya. Saya lihat mereka banyak membeli jajanan makanan ringan dengan uang 10.000 yang tadi saya kasihkan, termasuk membeli teh kemasan gelas juga mereka beli dan langsung diminum.

Kereta pun berangkat lagi, dengan sigap mereka berlari lagi seperti sebelumnya, belari kencang, dan bergekantungan di unjung kereta, namun bedanya kali ini mereka berlari membawa bekal.

Saya hanya dapat mengelengkan kepala dengan apa yang saya lihat kali ini. Sungguh bahagia itu memang benar-benar taj mesti mahal, bahkan bisa gratis plus dapat jajan.

wahahahahaha.. ada-ada saja

Entah ada apa aku dengan anjungan kelotok ini ( sebuah cerita )

Hari ini .. 
Entah mengapa aku begitu bahagia dengan anjungan klotok ini (perahu mesin, red).. 

Dari sejak awal naik klotok ini sampai berkilo-kilo saya serta dua teman saya menyusuri sungai kota Banjarmasin, kota seribu sungai katanya. Mulai dari sungai martapura, terus melewati benua anyar, sungai andai, sungai jinggah hingga sungai gampa yang ada di pelosok kota, saya dengan asik duduk di anjungan kapal tersebut sembari menikmati pemandangan sungai nan indah..

Mulai dari hiruk pikuk kota, pasar, patung bekantan, masjid, menara pantau, acil-acil mandi (ibu-ibu sedang mandi), hilir mudik klotok lainnya, dan tak terkecuali rumah rumah klasik khas kota seribu sungai, juga rumah lanting. Semua ku pandangi dengan lahap.

Sebelumnya, saya terlebih dulu mengambil posisi anjungan klotok yang kami sewa 250 ribu ini, begitu pula dengan dua temanku Arjuna dan Paulina juga mengambil posisi di anjungan.

Ketika itu pemilik klotok menegur kami " eh eh...jangan duduk dianjungan, rodanya timbul, klotok gak bisa jalan " beliau menegur kami. Kedua teman ku pun berpindah posisi, Arjuna dipaling belakang dan Paulina ditengah, aku pun berdiri ingin pindah posisi, pemilik klotok berkata kepadaku " kamu gak usah pindah, kamu tetap saja disitu tidak mengapa". Aku pun tetap dianjungan duduk manis, klotok pun melaju.

Sesampainya ditempat yang kami tuju, yakni sungai gampa, pemilik klotok yang membawa kami menyusuri sungai ini menghampiri saya, " kamu anak Fatimah kan ? '' kata beliau.. " iya mang, ibu saya Fatimah " sahut saya.

" pantesan kamu mirip dengan Fatimah, ibu mu itu teman saya waktu kecil, waktu sekolah dulu, ibu kamu itu juga paling senang duduk dianjungan klotok, mamang juga ingat sewaktu kamu kecil, umur sekitar 3 atau 4 tahun, sering keluarga kamu juga mencarter klotok mamang ini, untuk bepergian, kamu selalu meminta kepada ibumu agar duduk dianjungan, kalau gak dianjungan kamu menangis. Ya terpaksa ayah kamu duduk dianjungan mengendong kamu".

Aku hanya tersenyum..
Entah ingat tidak ingat, dejavu memang, aku pun sangat bahagia duduk dianjungan.

Sungaiku hidupku..
Penulis

jual koran sambil ngemis?



jual koran sambil ngemis? 




Entah apakah sudah menjadi teradisi atau hanya sekedar sebuah kebiasaan bahwa setiap masjid pada sholat jumat ada peminta-minta yang mencari belas kasih kepada masyarakat yang telah selesai melaksanakan sholat jumat. Bahkan sering kali terlihat di masjid yang besar terdapat lebih dari satu orang peminta-minta. Keterbatasan fisik membuat mereka merasa tak mampu untuk bekerja dan apa pula sebagian mereka memang sudah terbiasa meminta-minta, merasa lebih mudah mencari uang dengan meminta ketimbang bekerja berharap upah.

Peminta-minta atau lebih sering disebut dengan pengemis ini digeluti oleh orang-orang dewasa bahkan anak-anak. Aktivitas pengemis ini pula tak terkecuali terdapat di masjid raya sabilal muhtadin, bila dilihat dengan seksama atau bukan dengan seksama maka tidak akan mngkin kita bisa melihat. Dikarenakan para pengemis ini kebanyakan ialah anak-anak seusia sekolah dasar meminta-minta sembari berjualan koran bekas. Sebenarnya tidak tepat juga jika saya menyebut pengemis atau peminta minta, itu dikarena mereka datang ke masjid bukan untuk meminta-minta akan tetapi sebagai penjual koran bekas sebagai ganti sajadah sholat para jamaah yang tidak atau lupa membawa sejadah untuk sholat.
Mengapa saya menganggap aktivitas mereka seperti peminta-minta itu karena ketika mereka berjualan koran bekas dengan harga seribu rupiah mereka juga meminta uang kepada orang yang ditawari koran bekas namun tidak membelinya. " om.. om.. korannya om " begitu cara mereka menawarkan koran bekas kepada jamaah. Namun ketika orang tersebut tidak membeli maka mereka berkata " minta sadakahnya barang om'ae gasan sekolah " mereka minta uang ketika tidak dibeli dengan dalih bayar sekolah.

Mereka yang menggunakan seragam sekolah tampak tak canggung meminta uang kepada jamaah, tentu pula banyak jamaah yang iba dan memberikan uang kepada mereka. Walhasil uang yang mereka dapatkan setelah jualan koran bekas sekaligus minta-minta berkisar dari 20.000 sampai 50.000 bahkan jika beruntung mereka bisa mendapatkan uang 100.000 rupiah.

Berdalih untuk biaya keperluan luan sekolah penjual koran bekas sekaligus pengemis ini semakin bertambah, beberapa tahun yang lalu sempat saya masih hapal betul wajah-wajah penjual koran bekas ini karena orangnya cuma itu-itu saja, sekarang jumlah mereka bertambah banyak, bahkan selalu ada wajah baru diantara penjual koran bekas ini. Mulai datang berjalan kaki, bersepeda dab ada pula yang diantar oleh orang tuannya. " hati-hati nak lah buliknya " kata seorang ibu yang mengantarkan anaknya berjualan koran bekas sembari anaknya mencium tangan orang tuanya.

Siapa yang tak iba dengan ucapan seorang anak kecil yang berseragam sekolah mengucapkan " koran om! Minta sedekahnya barang om'ae gasan sekolah "? . Memang apa yang mereka jual itu halal membantu orang yang ingin sholat ketika tidak membawa sejadah, namun apa yang mereka lakukan, berjualan koran bekas sambil meminta-minta ini sangat memprihatinkan mental sekaligus moral mereka sebagai seorang harapan bangsa. Adakah solusi untuk ini?

Namun yang perlu digaris bawahi ialah tidak semua anak penjual koran bekas sambil meminta-minta, ada pula sebagian kecil dari mereka yang tak meminta-minta dan hanya berjualan koran saja. Dan banyak pula dari mereka yang memang dari rumah tidak membawa koran bekad untuk dijual, namun ketika sholat usai mereka meminta-minta kepada jamaah, untuk dalih mereka meminjam satu lembar koran bekas kepada anak-anak lain, seolah-olah mereka juga berjualan koran bekas.

*arif

Menyusuri Sungai Sambil Bercerita Tentang Kota Banjarmasin Bersama Effendi Ritonga

Menyusuri sungai bersama Bapak Effendi Ritonga

Menggunakan Kelotok yang menjadi Transportasi wisata sungai Kota Banjarmasin, Kami, bersama Bang Syarif Subhan, serta aktivis Masyarakat Peduli Sungai ( Malingai ) menemani Bapak mantan Walikota yang sangat cinta dengan Kota Banjarmasin ini berkeliling mengililingi sungai-sungai Banjarmasin, seperti sungai martapura, sungai kuin, sungai alalak, dan sungai-sungai lainnya.
sepanjang perjalanan, Bapak Effendi Ritonga banyak berbicara tentang sungai kota Banjaramsin dulu dimasa kepemimpinan beliau. Beliau juga menyampaikan beberapa harapan beliau tentang sungai Kota Banjarmasin Banjarmasin, diantara pemikiran beliau ialah, " semoga ke depan akan ada Hotel yang berdiri menggunakan lanting dikota Banjarmasin".

Walau saya belum lahir ketika beliau menjadi Walikota Banjarmasin, namun melalui cerita-cerita beliau yang beliau tuturkan, saya berani menyatakan " BELIAU SANGAT MENCINTAI BANJARMASIN, SAMPAI HARI INI " !!!
Pak Mukni Melingai ( kiri ) - Pak Ritongan & isteri ( tengah ) 

Depan Kantor Walikota

Coretan Mahasiswa : Menakar Kemerdekaan

Coretan Mahasiswa  : Menakar  Kemerdekaan
            Angka delapan cukup untuk membuat bangsa ini berfikir ketika melihatnya. 1928 terjadi gerakan serentak pemuda dari seluruh penjuru nusantara dalam rangka realisasi wacana sebuah Negara merdeka bernama Indonesia, kemudian dibulan delapan tahun 1945 tepat pada tanggal 17 secara konstitusi berdirilah sebuah negara yang diidamkan-idamkan (Indonesia), tahun 1998 mahasiswa kembali bergerak dengan dibantu oleh buruh dalam rangka meraih reformasi dari tangan orde baru.

            Sebelum ketiga sub bahasan diatas, mari kita merenungkan sebuah pesan bijak yang berbunyi “kelompok yang berbeda bisa kompak kalau ada musuh bersama”  Tahun 1928 para pemuda mengucapkan sumpah pemuda dengan satu tujuan yakni meraih kemerdekaan dari Belanda. Pada waktu itu, tentu musuhnya adalah Belanda. 1945 seluruh penduduk Indonesia merayakan (meski tidak merasakan) kemerdekaannya dengan suka cita, masih dengan musuh bersama yakni Belanda dan ditambah Jepang. Lalu, 1998 saat terjadi krisis ekonomi di Indonesia mahasiswa dan buruh berontak kepada pemerintah Orde Baru sampai tergulinglah kursi Soeharto, dizaman itu Orde Baru menjadi kambing hitamnya.

            Ketiga contoh sejarah tersebut memiliki ceritanya sendiri, namun secara garis besar kita bisa memahami bahwa bangsa akan mau bergerak apa bila musuhnya itu nyata secara Dzahir dan Bathin (maksudnya bathin adalah penjajahan ide dan mental). Hari ini, musuh tersebut berenkarnasi kedalam bentuk yang baru (baru kita pahami).

            Mengenai musuh yang berenkarnasi ini sebenarnya sudah dijelaskan di masa-masa awal penyebaran Islam, yakni ketika Sang Nabi berpesan kepada para sahabat setelah kemenangan perang. Yang inti pesan tersebut adalah agar para sahabat lebih berhati-hati terhadap musuh yang sebenarnya , yaitu diri kita sendiri (nafsu).

            Hari ini -setelah reformasi kita raih, setelah demokrasi kita terapkan, dan setelah lebih dari empat elas abad pesan ini disampaikan (oleh rasulullah)- kita baru merasakannya kembali. Bahwa tantangan terbesar kita berada pada diri sendiri, yang dalam bahasa lebih luas tantangan tersebut berada pada organisasi atau partai kita sendiri. Manakala mahasiswa tidak bisa lagi berperang dengan nyata sebab yang membuat kebijakan adalah seniorannya, buruh tidak lagi bicara politik sebab untuk makan saja sangat sulit, pedagang tidak lagi bermusyawarah ketika harga daging mahal disebabkan dirumah telah datang petugas inpor yang menghantarkan uang tutup mulut.

            Maka benar apa kata Nabi Muhammad SAW, musuh sebenarnya itu sangat berbahaya. Yang berasal dari diri kita, keluarga kita, atau orang kita adalah sebuah yang sangat membahayakan. Namun, apa bila kita bisa menanganinya pasti itu menjadi senjata ampuh dalam memenangkan percaturan duniawi ini.

            Sejatinya, inilah ujian sebenarnya pada zaman reformasi ini atau zaman demokrasi muda kita. Akan tetapi tidak hanya sampai disitu, keterpurukan Indonesia saat ini juga datang dari pintu yang lain. Misalnya 350 tahun Belanda juga menjajah kita secara ide, sekarang budaya kita dirasuki roh-roh dari hantu Hollywood, Bollywood, Korean Style dan baru ini senetron Turki. Dari segi ekonomi telah datang dihadapan kita pasar bebas atas nama MEA, dari segi pertahanan negara senjata kita telah diketahui oleh asing sebab mereka yang membuatnya untuk kita (beberapa hal saja), dari segi pendidikanpun ternyata sistem pendidikan di Indonesia sangat jauh tertinggal dengan Firlandia (negara dengan sistem pendidikan terbaik didunia) ditambah pendidikan ditempat kita malah dikatagorikan jenis bisnis.

            Dari manakah itu semua ? tentu tak lain adalah berasal dari budaya rakyat kita yang telah berusia 70 tahun ini. Sebagai mahasiswa, dizaman ini kita berada di Zona Aman. Dimana penderitaan dan kesengraan seolah stimulus tak berarti untuk membuat sebuah gerakan pembaharuan. Mungkinkah dosis pederitaan kita selama ini justru menjadi antibiotik bagi mahasiswa, sehingga mereka antipati terhadap kebijakan yang menyengsarakan rakyat. Wajar kalau mereka kemudian berfikir kuliah hanya untuk kerja saja, masalah kerja “apapun” tidak ada hubungannya dengan kuliahnya.

            Lalu, inikah yang diinginkan oleh orangtua kita ? bahwa kuliah itu untuk dapat pekerjaan yang lebih baik dan bisa hidup lebih layak darinya ? kalau jawabannya adalah “Ya”. Maka jangan heran banyak sarjana kita minta bayaran ketika membuatkan surat kerangan miskin dikelurahan, minta dispensasi sepihak untuk tanah warga yang terkena proyek pembangunan jalan umum, membayar kepala sekolah hanya agar nilai bagus bagi anaknya yang masih TK, korupsi waktu saat rapat dan lain sebagainya.
PENULIS


            Setelah 70 tahun Indonesia merdeka, mari saatnya kita bicara tentang prestasi dan kemajuan disegala bidang. Bukannya justru mendengarkan pidato 17-an dengan tema “membangun masyarakat yang sejahreta” layaknya pidato di tahun-tahun pertama merdeka.

Si Halaban Di Telaga Air Bertuah, Naskah Drama Teater, Cerita Legenda Banjar

  Si Halaban Di Telaga Air Bertuah Legenda Gunung Bajuin *Terinspirasi dari cerita rakyat legenda Halaban dan Telaga Banyu Batuah Gunung Baj...