Selasa, 16 Februari 2016

KEORGANISASIAN PMII

KEORGANISASIAN PMII

            Sejarah masa lalu adalah cermin masa kini dan masa datang. Dokumen historis, dengan demikian merupakan instrumen penting untuk mengaca diri. Tidak terkecuali PMII. Meski dokumen yang disajikan dalam tulisan ini terbilang kurang komplit, sosok organisasi mahasiswa tersebut sudah tergambar jelas berikut pemikiran dan sikap-sikapnya. Dokumen Sejarah menjadi sangat penting untuk ditinjau ulang sebagai referensi atau cerminan masa kini dan menempuh masa depan, demikian halnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi kemahasiswaan yang gerak perjuangannya adalah membela kaum mustadh’afin serta membangun kebangsaan yang lebih maju dari berbagai aspek sesuai dengan yang telah dicita-citakan.
            PMII, yang sering kali disebut Indonesian Moslem Student Movement atau Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia adalah anak cucu NU (Nahdlatul Ulama) yang terlahir dari kandungan Departemen Perguruan Tinggi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), yang juga anak dari NU. Status anak cucu inipun diabadikan dalam dokumen kenal lahir yang dibikin di Surabaya tepatnya di Taman Pendidikan Putri Khodjijah pada tanggal 17 April 1960 bertepatan dengan tanggal 21 Syawal 1379 H, sebagai organisasi underbow Partai NU. Dalam perkembangannya PMII menjadi organisasi independen dan menekankan diri sebagai organisasi pergerakan, dengan tujuan menciptakan pribadi Muslim yang memiliki komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia (Pasal 4 AD/ART). Struktur organisasi PMII meliputi Pengurus Besar, Koordinator Cabang (Provinsi), Cabang (Kabupaten/Kota), Komisariat (Kampus) dan Rayon (Fakultas). Proses berorganisasi diatur melalui berbagai jenis rapat mulai dari Kongres (nasional) hingga RTAR.
1. LATAR BELAKANG BERDIRINYA PMII
            Latar belakang berdirinya PMII terkait dengan kondisi politik pada PEMILU 1955, berada di antara kekuatan politik yang ada, yaitu MASYUMI, PNI, PKI dan NU. Partai MASYUMI yang diharapkan mampu untuk menggalang berbagai kekuatan umat Islam pada saat itu ternyata gagal. Serta adanya indikasi keterlibatan MASYUMI dalam pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) dan Perjuangan Semesta (PERMESTA) yang menimbulkan konflik antara Soekarno dengan MASYUMI (1958). Hal inilah yang kemudian membuat kalangan mahasiswa NU gusar dan tidak enjoy beraktivitas di HMI (yang saat itu lebih dekat dengan MASYUMI), sehingga mahasiswa NU terinspirasi untuk mempunyai wadah tersendiri “di bawah naungan NU”, dan di samping organisasi kemahasiswaan yang lain seperti HMI (dengan MASYUMI), SEMMI (dengan PSII), IMM (dengan Muhammadiyah), GMNI (dengan PNI) dan KMI (dengan PERTI), CGMI (dengan PKI).
            Proses kelahiran PMII terkait dengan perjalanan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), yang lahir pada 24 Februari 1954, dan bertujuan untuk mewadahi dan mendidik kader-kader NU demi meneruskan perjuangan NU. Namun dengan pertimbangan aspek psikologis dan intelektualitas, para mahasiswa NU menginginkan sebuah wadah tersendiri. Sehingga berdirilah Ikatan Mahasiswa Nahdhatul Ulama (IMANU) pada Desember 1955 di Jakarta, yang diprakarsai oleh beberapa Pimpinan Pusat IPNU, diantaranya Tolchah Mansyur, Ismail Makky dll.
            Namun akhirnya IMANU tidak berumur panjang, karena PBNU tidak mengakui keberadaanya. Hal itu cukup beralasan mengingat pada saat itu baru saja dibentuk IPNU pada tanggal 24 Februari 1954, “apa jadinya kalau bayi yang baru lahir belum mampu merangkak dengan baik sudah menyusul bayi baru yang minta diurus dan dirawat dengan baik lagi.”
            Dibubarkannya IMANU tidak membuat semangat mahasiswa NU menjadi luntur, akan tetapi semakin mengobarkan semangat untuk memperjuangkan kembali pendirian organisasi, sehingga pada Kongres IPNU ke-3 di Cirebon, 27-31 Desember 1958, diambillah langkah kompromi oleh PBNU dengan mendirikan Departemen Perguruan Tinggi IPNU untuk menampung aspirasi mahasiswa NU. Namun setelah disadari bahwa departemen tersebut tidak lagi efektif, serta tidak cukup kuat menampung aspirasi mahasiswa NU (sepak terjang kebijakan masih harus terikat dengan struktural PP IPNU), akhirnya pada Konferensi Besar IPNU di Kaliurang, 14-16 Maret 1960, disepakati berdirinya organisasi tersendiri bagi mahasiswa NU dan terpisah secara struktural dengan IPNU. Dalam Konferensi Besar tersebut ditetapkanlah 13 orang panitia sponsor untuk mengadakan musyawarah diantaranya adalah:
1.A.CholidMawardi(Jakarta).
2.M.SaidBudairi(Jakarta).
3.M.SubichUbaid(Jakarta).
4.M.MakmunSjukri,BA(Bandung).
5.Hilman(Bandung).
6.H.IsmailMakky(Yogyakarta).
7.MunsifNachrowi(Yogyakarta).
8.NurulHudaSuaidi,BA(Surakarta).
9.LailiMansur(Surakarta).
10.AbdulWahabDjaelani(Semarang).
11.HizbullahHuda(Surabaya).
12.M.CholidMarbuko(Malang).
13. Ahmad Husein (Makassar).
                                      
            Seperti diuraikan oleh sahabat Chotibul Umam (mantan Rektor PTIQ Jakarta yang juga generasi pertama PMII), pra melaksanakan Musyawarah Mahasiswa Nahdliyin tersebut, terlebih dahulu 3 dari 13 orang sponsor pendiri itu, yaitu Hisbullah Huda (Surabaya), Said Budairy (Jakarta), dan Maksum Syukri (Bandung) pada tanggal 19 Maret 1960 berangkat ke Jakarta menghadap Ketua Umum Partai Nahdlatul ulama (NU) yaitu KH. Idham Khalid untuk meminta nasehat sebagai pegangan pokok dalam musyawarah yang akan dilaksanakan. Dan akhirnya mereka mendapatkan lampu hijau, beberapa petunjuk, sekaligus harapan agar menjadi kader partai NU yang cakap dan berprinsip ilmu untuk diamalkan serta berkualitas takwa yang tinggi kepada Allah SWT. Salah satu pesan KH. Idham Khalid yang menjadi pegangan bagi mahasiswa nahdliyin pada waktu itu yaitu hendaknya organisasi yang akan dibentuk itu benar-benar dapat diandalkan, dan menjadi mahasiswa yang berprinsip ‘ilmu untuk di amalkan’ bagi kepentingan rakyat, bukan ‘ilmu untuk ilmu’. Lalu berkumpulah tokoh-tokoh mahasiswa yang tergabung dalam organisasi IPNU tersebut untuk membahas tentang nama organisasi yang akan dibentuk.
            Akhirnya, pada tanggal 14-16 April 1960 dilaksanakan Musyawarah Nasional Mahasiswa NU bertempat di Taman Pendidikan Puteri Khadijah Surabaya dengan dihadiri mahasiswa NU dari berbagai penjuru kota di Indonesia, dari Jakarta, Bandung, Semarang, Surakarta, Yogyakarta, Surabaya, Malang dan Makassar, serta perwakilan senat Perguruan Tinggi yang bernaung dibawah NU. Pada saat itu diperdebatkan nama organisasi yang akan didirikan. Delegasi Yogyakarta mengusulkan nama Himpunan atau Perhimpunan Mahasiswa Sunny. Delegasi Bandung dan Surakarta mengusulkan nama PMII.
            Selanjutnya nama PMII yang menjadi kesepakatan Kongres. Namun kemudian kembali dipersoalkan kepanjangan dari “P” apakah Perhimpunan atau Persatuan. Akhirnya disepakati huruf “P” merupakan singkatan dari Pergerakan, sehingga PMII adalah “Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia”. Musyawarah juga menghasilkan susunan Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PMII, serta memilih dan menetapkan Kepengurusan. Terpilih Sahabat Mahbub Djunaidi sebagai Ketua Umum, M. Chalid Mawardi sebagai Ketua I, dan M. Said Budairy sebagai Sekretaris Umum. Ketiga orang tersebut diberi amanat dan wewenang untuk menyusun kelengkapan kepengurusan PB PMII.
            Unsur pemikiran yang ditonjolkan pada organisasi PMII yang akan berdiri pada waktu itu adalah:
1.    Mewujudkan adanya kedinamisan sebagai organisasi mahasiswa, khususnya karena pada waktu itu situasi nasional sedang diliputi oleh semangat revolusi;
2.    Menampakkan identitas ke-Islaman sekaligus sebagai konsepsi lanjutan dari NU yang berhaluan ahlu sunnah wal jamaah juga berdasarkan perjuangan para wali di pulau jawa yang telah sukses dengan dakwahnya. Mereka sangat toleran atas tradisi dan budaya setempat. Sehingga dengan demikian ajaran-ajarannya bersifat akomodatif.
3.    Memanifestasikan nasionalisme sebagai semangat kebangsaan, karenanya nama Indonesia harus tercantum.
           
PMII dideklarasikan secara resmi pada tanggal 17 April 1960 Masehi atau bertepatan dengan tanggal 17 Syawwal 1379 Hijriyah. Maka secara resmi pada tanggal 17 April 1960 dinyatakan sebagai hari lahir PMII. Dua bulan setelah berdiri, pada tanggal 14 Juni 1960 pucuk pimpinan PMII disahkan oleh PBNU. Sejak saat itu PMII memiliki otoritas dan keabsahan untuk melakukan program-programnya secara formal organisatoris.
            Dalam waktu yang relatif singkat, PMII mampu berkembang pesat sampai berhasil mendirikan 13 cabang yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia karena pengaruh nama besar NU. Dalam perkembangannya PMII juga terlibat aktif, baik dalam pergulatan politik serta dinamika perkembangan kehidupan kemahasiswaan dan keagamaan di Indonesia (1960-1965).
            Pada 14 Desember 1960 PMII masuk dalam PPMI dan mengikuti Kongres VI PPMI (5 Juli 1961) di Yogyakarta sebagai pertama kalinya PMII mengikuti kongres federasi organisasi ekstra universitas. Peran PMII tidak terbatas di dalam negeri saja, tetapi juga terlibat dalam perkembangan dunia internasional. Terbukti pada bulan September 1960, PMII ikut berperan dalam Konferensi Panitia Forum Pemuda Sedunia (Konstituen Meeting of Youth Forum) di Moscow, Uni Soviet. Tahun 1962 menghadiri seminar World Assembly of Youth (WAY) di Kuala Lumpur, Malaysia. Festival Pemuda Sedunia di Helsinki, Irlandia dan seminar General Union of Palestina Student (GUPS) di Kairo, Mesir.
            Di dalam negeri, PMII melibatkan diri terhadap persoalan politik dan kenegaraan, terbukti pada tanggal 25 Oktober 1965, berawal dari undangan Menteri Perguruan Tinggi Syarif Thoyyib kepada berbagai aktifis mahasiswa untuk membicarakan situasi nasional saat itu, sehingga dalam ujung pertemuan disepakati terbentuknya KAMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia) yang terdiri dari PMII, HMI, IMM, SEMMI, dan GERMAHI yang dimaksudkan untuk menggalang kekuatan mahasiswa Indonesia dalam melawan rongrongan PKI dan meluruskan penyelewengan yang terjadi. Sahabat Zamroni sebagai wakil dari PMII dipercaya sebagai Ketua Presidium. Dengan keberadaan tokoh PMII di posisi strategis menjadi bukti diakuinya komitmen dan kapabilitas PMII untuk semakin pro aktif dalam menggelorakan semangat juang demi kemajuan dan kejayaan Indonesia.
            Usaha konkrit dari KAMI yaitu mengajukan TRITURA dikarenakan persoalan tersebut yang paling dominan menentukan arah perjalanan bangsa Indonesia. Puncak aksi yang dilakukan KAMI adalah penumbangan rezim Orde Lama yang kemudian melahirkan rezim Orde Baru, yang pada awalnya diharapkan untuk dapat mengoreksi penyelewengan-penyelewengan yang dilakukan Orde Lama dan bertekad untuk melaksanakan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan konsekuen sebagai cerminan dari pengabdian kepada rakyat.
            Pemikiran-pemikiran PMII mengenai berbagai masalah nasional maupun internasional sangat relevan dengan hasil-hasil rumusan dalam kongresnya antara lain yaitu :
1.    Kongres I Solo, 23-26 Desember 1961 menghasilkan Deklarasi Tawang Mangu yang mengangkat tema Sosialisme Indonesia, Pendidikan Nasional, Kebudayaan dan Tanggungjawabnya sebagai generasi penerus bangsa.
2. Kongres II di Yogyakarta, 25-29 Desember 1963 penegasan pemikiran Kongres I dan dikenal sebagai Penegasan Yogyakarta dan sebelumnya ditetapkan 10 Kesepakatan Ponorogo 1962 (sebagai bukti kesadaran PMII akan perannya sebagai kader NU).
 Secara totalitas PMII sebagai organisasi merupakan suatu gerakan yang bertujuan melahirkan kader-kader bangsa yang mempunyai integritas diri sebagai hamba yang bertaqwa kepada Allah SWT dan atas dasar ketaqwaannya berkiprah mewujudkan peran ketuhanannya membangun masyarakat bangsa dan negara Indonesia menuju suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur dalam ampunan dan ridlo Allah SWT).
Sedangkan pengertian Ahlus Sunnah Wal-Jama’ah yang menjadi paham organisasi adalah Islam sebagai universalitas yang meliputi segala aspek kehidupan manusia. Aspek-aspek tersebut dapat dijabarkan kedalam tata Aqidah, Syariah, dan Tasyawuf. Dalam bidan Aqidah mengikuti paham Al-Asya’ari dan Al-Maturidi, dalam bidang syariah mengikuti salah satu mazhab empat yaitu: Syafi’I, Maliki, Hambali dan Hanafi. Sedang dalam bidang Tasawuf, mengikuti Imam Juned Al-Bagdadi dan Imam Al-Gozali. Masing-masing ketiga aspek itu dijadikan paham organisasi PMII dengan tanpa meninggalkan wawasan dasar Al-Qur’an dan As-Sunnah serta perilaku sahabat Rasul. Aspek Fiqih diupayakan penekanannya pada proses pengambilan hukum, yaitu Ushul Fiqih dan Kaidah Fiqih, bukan semata-mata hukum itu sendiri sebagai produknya (lihat NDP PMII).
Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa para mahasiswa nahdliyin sebenarnya dari segi cara berfikir tidak jauh berbeda dengan mahasiswa pada umumnya, yang menghendaki kebebasan. Sedangkan dalam bertindak cenderung anti kemapanan, terlebih jika kelahiran PMII itu dihubungkan dengan tradisi keagamaan di kalangan NU, misalnya bagi putra-putri harus berbeda/dipisah organisasi, PMII justru keluar dari tradisi itu. Fenomena ini barangali termasuk hal yang patut mendapat perhatian bagi perkembangan pemikiran ahlussunnah wal-jama’ah.
Adapun susunan pengurus pusat PMII periode pertama ini baru tersusun secara lengkap pada bulan Mei 1960. Seperti diketahui, bahwa PMII pada awal berdirinya merupakan organisasi mahasiswa yang idependen dengan NU , maka PP. PMII dengan surat tertanggal 8 Juni 1960 mengirim surat permohonan kepada PBNU untuk mengesahkan kepengurusan PP PMII tersebut. Pada tanggal 14 Juni 1960 PBNU menyatakan bahwa organisasi PMII dapat diterima dengan sah sebagai keluarga besar partai NU dan diberi mandat untuk membentuk cabang-cabang di seluruh Indonesia, sedang yang menandatangani SK tersebut adalah DR. KH. Idham Chalid selaku ketua Umum PBNU dan H. Aminuddin Aziz selaku wakil sekretaris jendral PBNU ).
Musyawarah mahasiswa nahdliyin di Surabaya yang dikenal dengan nama PMII, hanya menghasilkan peraturan dasar organisasi, maka untuk melengkapi peraturan organisasi tersebut dibentuklsn satu panitia kecil yang diketuai oleh sahabat M. Said Budairi dengan anggota sahabat Chalid mawardi dan sahabat Fahrurrazi AH, untuk merumuskan peraturan rumah tangga PMII. Dalam sidang pleno II PP PMII yang diselenggarakan dari tanggal 8 - 9 September 1960, Peraturan rumah tangga PMII dinyatakan syah berlaku melengkapi paraturan dasar PMII yang sudah ada sebelumnya)
Di samping itu, sidang pleno II PP PMII juga mengesahkan bentuk muts (topi), selempang PMII, adapun lambang PMII diserahkan kepada pengurus harian, yang akhirnya dipuruskan bahwa lambang PMII berbentuk perisai seperti yang ada sekarang (rincian secara lengkap dapat dilihat dalam lampiran peraturan rumah tangga PMII). Dalam sidang ini pula dikeluarkan pokok-pokok aturan mengenai penerimaan anggota baru  ) sekarang dikenal dengan MAPABA.
Pada tahap-tahap awal berdirinya PMII banyak dibantu warga NU terutama PP LP. Ma’arif NU. Sejak musyawarah mahssiswa nahdliyin di surabaya sampai memberikan pengertian kepada Pesantren-pesantren (perlu diketahui, pada awal berdirinya, di Pondok-pondok Pesantren dapat dibentuk PMII dengan anggota para santri yang telah lulus madrasah Aliyah dan seang mengkaji kitab yang tingkatannya sesuai dengan pelajaran yang diberikan di perguruan tinggi agama). Dengan adanya kebijakan seperti ini ternyata dapat mempercepat proses pengembangan PMII).
2. ASAS, SIFAT DAN TUJUAN PMII
  Dalam Anggaran Dasar (AD) Bab II Pasal 2 dijelaskan bahwaPMII Berasaskan Pancasila. Sedangkan Bab III Pasal 3 menerangkan PMII bersifat keagamaan, kemahasiswaan, kebangsaan, kemasyarakatan, independensi dan profesional.
Adapun tujuan PMII (Visi) ada dalam Bab IV Pasal 4 yaitu: ”Terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertaqwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia.”
Sedangkan untuk mewujudkan tujuan tersebut, PMII mengusakan (misi) sebagaimana dalam Bab IV pasal 5, sebagai berikut:
1.    Menghimpun dan membina mahasiswa Islam sesuai dengan sifat dan tujuan PMII serta peraturan perundang-undangan dan paradigma PMII yang berlaku.
2.    Melaksanakan kegiatan-kegiatan dalam berbagai bidang sesuai dengan asas dan tujuan PMII serta mewujudkan pribadi insan ulul albab.
3. STRUKTUR ORGANISASI DAN PERMUSYAWARATAN
Dalam Bab VI tenang Struktur Organisasi Pasal 7 dijelaskan bahwa Struktur Organisasi PMII terdiri atas:
1. Pengurus Besar (PB)
2. Pengurus Koordinator Cabang (PKC)
3. Pengurus Cabang (PC)
4. Pengurus Komisariat (PK)
5. Pengurus rayon (PR).
Sedangkan dalam Bab VII tentang Permusyawaratan Pasal 8 diterangkan bahwa Permusyawaratan dalam Organisasi terdiri dari :
1.    Kongres
2.    Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas)
3.    Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas)
4.    Konferensi Koordinator Cabang (Konferkoorcab)
5.    Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspimda)
6.    Musyawarah Kerja Koordinator Cabang (Mukerkoorcab)
7.    Konferensi Cabang (Konfercab)
8.    Musyawarah Pimpinan Cabang (Muspimcab)
9.    Rapat Kerja Cabang ( Rakercab )
10. Rapat Tahunan Komisariat (RTK)
11. Rapat Tahunan Anggota Rayon (RTAR)
12. Kongres Luar Biasa (KLB)
13. Konferensi Koordinator Cabang Luar Biasa (Konferkoorcab-LB)
14. Konferensi Cabang Luar Biasa (Konfercab-LB)
15. Rapat Tahunan Komisariat Luar Biasa (RTK-LB)
16. Rapat Tahunan Anggota Rayon Luar Biasa ( RTAR-LB).
Dalam Bab VIII tentang Wadah Pengembangan Dan Pemberdayaan Perempuan Pasal 9 dinyatakan bahwa:
1.    Pengembangan dan pemberdayaan perempuan diwujudkan dalam badan semi otonom yang secara khusus menangani pengembangan dan pemberdayaan perempuan PMII berpersfektif keadilan dan kesetaraan gender yang dibentuk berdasarkan asas lokalitas kebutuhan.
2.    Selanjutnya pengertian semi otonom dijelaskan dalam Bab penjelasan.
4. LAMBANG PMII
            Lambang PMII diciptakan oleh H. Said Budairi. Lazimnya lambang, lambang PMII memiliki arti yang terkandung di setiap goresannya. Arti dari lambang PMII bisa dijabarkan dari segi bentuknya (form) maupun dari warnanya.
            1. Dari Bentuk :
  1. Perisai berarti ketahanan dan keampuhan mahasiswa Islam terhadap berbagai tantangan dan pengaruh luar
  2. Bintang adalah perlambang ketinggian dan semangat cita- cita yang selalu memancar
  3. Lima bintang sebelah atas menggambarkan Rasulullah dengan empat Sahabat terkemuka (Khulafau al Rasyidien)
  4. Empat bintang sebelah bawah menggambarkan empat mazhab yang berhauan Ahlussunnah Wal Jama’ah
  5. Sembilan bintang sebagai jumlah bintang dalam lambing dapat diartikan ganda yakni :
  •  Rasulullah dan empat orang sahabatnya serta empat orang Imam mazhab itu laksana bintang yang selalu bersinar cemerlang, mempunyai kedudukan tinggi dan penerang umat manusia.
  •  Sembilan orang pemuka penyebar agama Islam di Indonesia yang disebut WALISONGO.
            2. Dari Warna :
  1. Biru, sebagaimana warna lukisan PMII, berarti kedalaman ilmu pengetahuan yang harus dimiliki dan digali oleh warga pergerakan. Biru juga menggambarkan lautan Indonesia yang mengelilingi kepulauan Indonesia dan merupakan kesatuan Wawasan Nusantara.
  2. Biru muda, sebagaimana warna dasar perisai sebelah bawah, berarti ketinggian ilmu pengertahuan, budi pekerti dan taqwa.
Kuning, sebagaimana warna dasar perisai- perisai sebelah bawah, berarti identitas kemahasiswaan yang menjadi sifat dasar pergerakan lambing kebesaran dan semangat yang selalu menyala serta penuh harapan menyongsong masa depan
5. DAFTAR NAMA KETUA UMUM PB PMII
Berikut ini daftar nama-nama Ketua Umum PB PMII dari masa ke masa sesuai dengan urutan periode tahun kepemimpinan:

1.Sahabat     M.Mahbub    Djunaidi(1960-1966)duakali
2.Sahabat Zamroni (1966-1973) dua kali
3 Sahabat Abduh Paddare (1973-1977)
4.Sahabat Ahmad Badja (1977-1981)
5.Sahabat Muhyiddin Arubusman (1981-1985)
6.Sahabat Surya Dharma Ali (1985-1988)
7.Sahabat M. Iqbal Assegaf (1988-1991)
8.Sahabat Ali Masykur Musa (1991-1994)
9.Sahabat A. Muhaimin Iskandar (1994-1997)
10.Sahabat Saiful Bahri Anshori (1997-2000)
11.Sahabat Nusron Wahid (2000-2003)
12.Sahabat A. Malik Haramain (2003-2005)
13.Sahabat Hery Haryanto Azumi (2005-2008)
14.Sahabat M. Rodli Kaelani (2008-2010)
15.Sahabat Addin Jauharudin (2011-2013)
16.Sahabat   Aminnudin   Ma’ruf(2014- sekarang)


jelaslah bahwa PMII merupakan komunitas penting bagi bangsa ini. Maka, PMII dituntut harus mampu tetap memberikan dharma bhaktinya kepada nusa, bangsa dan agama. Kritik konstruktif dan mitra pembangunan yang cerdas terhadap pemerintah supaya menjalankan pemerintahan dengan baik dan benar (kalau tidak bisa ya lebih baik turun atau diturunkan), dan mendidik anggotanya untuk mandiri dan berani bersaing dengan siapapun agar survive dalam percaturan kehidupan globalisasi yang sangat kompetitif, menjadi agenda utama yang harus segera dilaksanakan.
Di situlah, pendekatan Multilevel Strategi Kaderisasi yang ditempuh PMII menjadi ikhtiar organisasi untuk mencetak kader-kader yang mampu percaya diri untuk meraih keberhasilan cita-cita. jelaslah bahwa PMII merupakan komunitas penting bagi bangsa ini. Maka, PMII dituntut harus mampu tetap memberikan dharma bhaktinya kepada nusa, bangsa dan agama. Kritik konstruktif dan mitra pembangunan yang cerdas terhadap pemerintah supaya menjalankan pemerintahan dengan baik dan benar (kalau tidak bisa ya lebih baik turun atau diturunkan), dan mendidik anggotanya untuk mandiri dan berani bersaing dengan siapapun agar survive dalam percaturan kehidupan globalisasi yang sangat kompetitif, menjadi agenda utama yang harus segera dilaksanakan.
Di situlah, pendekatan Multilevel Strategi Kaderisasi yang ditempuh PMII menjadi ikhtiar organisasi untuk mencetak kader-kader yang mampu percaya diri untuk meraih keberhasilan cita-cita.

KEPEMIMPINAN, MANAJEMEN & ORGANISASI

Oleh : Bayu Pramutoko,SE,MM

(Dosen Fakultas Ekonomi Univ. Islam Kadiri)


 A. ORGANISASI
 1. PENGERTIAN ORGANISASI
          “ Organisasi adalah kumpulan orang – orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang dilakukan berdasar atas suatu aturan tertentu dan penjabaran fungsi pekerjaan secara formal “.
2. Tujuan
i.           Secara umum è Agar proses pekerjaan tercapai dengan cara diatur, disusun sehingga seluruh pekerjaan dapat diselesaikan secara efektif dan efisien.
ii.         Secara khusus  è sesuai dengan Bidang dimana Organisasi bergerak contoh Bidang agama,sosial, ekonomi, dan Politik.
3.    Manfaat
            Agar pelaksanaan tugas dilakukan lebih baik terkoordinir dan tujuan serta jalannya pekerjaan tercapai secara efektif dan efisien.
4. Asas / prinsip organisasi
– Asas – asas :  prinsip perumusan dan penentuan tujuan, prinsip pembagian kerja, prinsip pendelegasian wewenang, prinsip organisasi, prinsip efisiensi sederhana, prinsip pengawasan umum.
5. Struktur Organisasi
1.      Struktur Organisasi Garis è Digunakan pada perusahaan / lembaga yang sederhana / kecil
2.      Struktur Organisasi Fungsional  è Susunan organisasi yang memberikan gambaran pembagian tugas dan wewenang menurut fungsi pekerjaan.

B. PENGERTIAN MANAGEMEN SECARA UMUM
“ Managemen yaitu proses yang terdiri dari rangkaian kegiatan.  perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengendalian / pengawasan yang dilakukan untuk mencapai tujuan tertentu yang ditetapkan melalui pemanfaatan SDM dan sumber daya lainnya “.

C. PENGERTIAN PEMIMPIN DAN KEPEMIMPINAN
Pimpin   artinya   bimbing,   tuntun.   Memimpin   artinya ‘membimbing, menuntun dan menunjukan. Pemimpin atau leader ; ialah orang yang memimpin atau seseorang yang mempergunakan wewenang dan mengarahkan bawahannya untuk mengerjakan sebagian pekerjaannya dalam mencapai tujuan organisasi. Beberapa ahli tentang pemimpin, di antaranya :
Menurut Prof Dr H Arifin Abdurrahman. Pemimpin “ adalah orang yang dapat menggerakkan orang-orang yang ada di sekelilingnya untuk mengikuti jejak pemimpin itu.”
 Kepemimpinan   adalah   kata   benda   dari   pemimpin. Kepemimpinan mempunyai beberapa pengertian, di antaranya :
a.       Cara seorang pemimpin mempengaruhi prilaku bawahannya agar mau bekerjasama dan bekerja secara produktif untuk mencapai tujuan organisasi.
b.      Seni untuk mempengaruhi tingkah laku manusia, kemampuan untuk membimbing orang-orang yang ada di sekelilingnya.
c.       Seni untuk mengkoordinasikan dan memberi motivasi kepada individu dan kelompok guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dan sukses tidaknya seorang pemimpin melaksanakan tugas kepemimpinannya,  tidak  terutama   ditentukan  oleh  tingkat keterampilan tehnis (technical skills) yang dimiliknya, akan tetapi lebih banyak ditentukan oleh keahliannya menggerakkan orang lain untuk bekerja dengan baik (managerial skills).

 D. FUNGSI – FUNGSI  PIMPINAN DI DALAM MANAGEMEN
       Fungsi manager dalam managemen secara menyeluruh  :
(1).  Planing atau perencanaan è     Merencanakan kegiatan yang hendak dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan
(2).  Organising atau pengorganisasian è Menyusun, menentukan, menetepkan, jenis tugas dan kewajiban setiap fungsi.
(3).  Staffing atau penyusunan staf è Penyusunan dan penetapan serta pengembangan meliputi kegiatan mulai merekrut pegawai, usaha memanfaatkan, mengembangkan sampai mendayaguna secara maksimal.
(4).              Directing atau pengarahan è Memberikan komando, mengerakkan dengan memberi perintah, juga memberikan kepemimpinan kepada bawahan supaya dapat melaksanakan tugas secara efektif dan efisien.
(5).  Coordinating atau pengkoordinasian è Yaitu mengkoordinir seluruh pekerjaan diantara pekerjaan yang satu dengan yang lain merupakan totalitas.
(6).  Controlling atau pengawasan è Usaha untuk memberikan penilaian, koreksi, evaluasi atas semua kegiatan dan secara terus – menerus melakukan monitoring baik pekerjaan yang sedang dilakukan ataupun pekerjaan yang sudah dilakukan.

E. KEMAMPUAN SESEORANG DALAM FUNGSI  MANAJEMEN
            Untuk dapat menghadapi tantangan-tantangan Lingkungan dan perubahan Paraigma tersebut seorang manager/Pimpinan sebuah organisasi harus memiliki tiga kemampuan manajemen yang mencakup :
1.    Kemampuan teknik (technical) è merupakan kemampuan untuk mengaplikasikan pengetahuan khusus atau keahlian.
2.    Kemampuan Manusiawi (human) è Merupakan kemampuan untuk bekerja dengan, mengerti dan memotivasi orang lain baik individu maupun kelompok.
3.    Kemampuan Konseptual (conceptual) è merupakan kemampuan mental untuk menganalisis dan mendiagnosis situasi yang kompleks.
Tugas seorang Pimpinan / Manajer pada hakekatnya adalah bekerja dengan dan melalui orang lain (atasan, bawahan, atau rekan sejawat). Di dalam melaksanakan tugas tersebut seringkali masalah-masalah yang dihadapi oleh seorang Pempinan/manajer adalah masalah-masalah yang berhubungan dengan “ Mengatur Orang “.Artinya, kepemimpinan di dalam suatu organisasi hanya efektif jika kepemimpinan itu diterima oleh orang lain yang disebut bawahan.

F. SIFAT-SIFAT PEMIMPIN YANG BAIK DAN IDEAL
1. Memiliki kondisi fisik yang sesuai dengan tugasnya. Tugas kepemimpinan tertentu menuntut sifat kesehatan tertentu pula.
2. Berpengetahuan luas. Berpengetahuan luas tidak  selalu diidentikan dengan berpendidikan tinggi. Ada sekelompok orang yang meskipun pendidikannya tinggi tetapi pandangannya masih sempit, yaitu tidak terbatas pada bidang keahliannya saja.
3. Mempunyai keyakinan bahwa organisasi akan berhasil mencapai lujuan   yang   telah   ditentukan   melalui   dan   berkat kepemimpinannya. Kepercayaan pada diri sendiri merupakan modal yang sangat besar dan penting artinya bagi pemimpin.Tanpa keyakinan itu dalam tindakannya akan kelihatan ragu-ragu.
4. Memiliki stamina (.daya kerja) dan etos kerja yang tuntas. Pemimpin tidak mengenal lelah, dengan sikap ini pekerjaan yang rutin tidak menjadikan pemimpin semakin lemah tetapimenjadikannya semakin gigih karena kreativitasnya senantiasa ditantang.
5. Gemar dan cepat mengambil keputusan. Karena tugas terpeming dan seorang pemimpin adalah untuk mengambil keputusan yang harus dilaksanakan oleh orang lain, maka ia harus mempunyai keberanian mengambil keputusan dengan cepat, terutama dalam keadaan darurat yang tidak dapat menunggu.
6. Obyektif dalam arti dapat menguasai emosi dan lebih banyak mempergunakan rasio. Seorang pemimpin yang emosional akan kehilangan obyektifitasnya karena tindakannya lidak didasarkan pada akal sehat.
7. Adil dalam memperlakukan bawahan. Yang dimaksud dengan “keadilan” di sini. ialah kemampuan memperlakukan bawahan atas dasar kapasitas kerja bawahan itu, terlepas dari pandangan kedaerahan, kesukuan, ikatan keluargan dan lain sebagainya.
8. Menguasai prinsip-prinsip human relation. Karena human relation adaiah inti kepemimpinan, maka seorang pemimpin yang baik harus   dapat   memusatkan   perhatian,   tindakan   dan kebijaksanaannya kepada pembinaan kerja tim yang intim dan harmonis.
9. Menguasai teknik-teknik berkomunikasi. Berkomunikasi dengan pihak lain dan bawahan. sesama atasan dan pihak luar baik lisan maupun tulisan sangat penting karena melalui saluran-saluran komunikasilah instuksi, nasehat, saran, ide dan lain-lain disampaikan.
10. Dapat dan mampu bertindak sebagai penasihat, guru dan kepala terhadap bawahannya tergantung atas situasi dan masalah yang dibadapi.

G. TIMBULNYA PEMIMPIN YANG BAIK
Mengenai timbulnya seorang pemimpin o]eh para ahli teori kepemimpinan telah dikemukakan beberapa teori yang berbeda-beda. Namun demikian apabila berbagai teori itu dianalisa akan terlihat adanya tiga teori yang menonjol.
1. Teori Genetis
    Para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan. Teori ini berpendapat bahwa pemimpin itu dilahirkan (leaders are born). Dalam keadaan yang bagaimanapun seorang ditempatkan, karena ia telah ditakdirkan menjadi pemimpin, satu kali kelak ia akan muncul sebagai pemimpin. Berbicara mengenai takdir, secara filosofis pandangan ini tergolong kepada pandangan yang fatalistis dan deterministis.
2. Teori Sosial
         Merupakan kebalikan inti teori genetis. Teori ini berpendapat bahwa pemimpin itu dibentuk dan ditempa (leaders are made). Teori ini menganut paham egalitarianistik, oleh karenanya para penganut teori ini mengetengahkan pendapat yang mengatakan bahwa setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.
3. Teori Ekologis
          Karena kedua teori di atas tidak seluruhnya mengandung kebenaran, maka sebagai reaksi kepada kedua teori tersebut timbullah teori ketiga yang disebut teori ekologis yang pada intinya berarti bahwa seorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik bila ia pada waktu  lahimya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat-bakat itu kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang telah dimiliki itu.

E. TIPE-TIPE PEMIMPIN
1. Tipe Otokratis
      Seorang pemimpin yang otokratis ialah seorang pemimpin yang :
a.     Menganggap organisasi sebagai milik pribadi.
b.    Mengidentikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
c.     Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata.
d.    Tidak mau menerima kritik, saran dan pendapat.
e.     Terlalu bergantung kepada kekuasaan formalnya.
f.      Dalam tindakan penggerakannya sering mempergunakan pendekatan yang mengandung unsur paksaan dan punitif (bersifat menghukum)
2. Tipe Militeristis
     Seorang pemimpin yang bertipe militeristis memiliki sifat-sifat:
a.     Sering mempergunakan sistem perintah dalam menggerakkan bawahannya.
b.    Senang bergantung pada pangkat dan jabatan dalam menggerakkan bawahannya.
c.     Senang kepada formalitas yang beriebih-lebihan.
d.    Menuntut disiplin yang tinggi dan kaku dari bawahan.
e.     Sukar menerima kritikan dari bawahan.
f.   Menggemari upacara-upacara untuk berbagai acara dan keadaan.
3. Tipe Paternalistis
Seorang pemimpin yang patemalistis ialah seorang yang :
a.       Menganggap bawahannya sebagai manusia yang tidak dewasa.
b.       Bersikap terlalu melindungi.
c.       Jarang memberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengambil keputusan dan inisiatif.
d.       Jarang i-nemberikan kesempatan kepada bawahannya untuk mengembangkan daya kreasi dan fantasinya.
e.       Sering bersikap maha tahu.
4. Tipe Kharismatis
Hingga kini para pakar belum berhasil menemukan sebab-sebab mengapa seorang pemimpin memiliki kharisma. yang diketahui ialah bahwa pemimpin yang demikian mempunyai daya tarik yang amat besar dan karenanya pada umumnya mempunyai pengikut yang jumlahnya sangat besar, Karena kurangnya pengetahuan tentang sebab musabab seorang menjadi pemimpin yang kharismatis, maka sering dikatakan bahwa pemimpin yang demikian diberkahi dengan kekuatan gaib (supernatural powers).
5. Tipe Laissez Faire
Seorang pemimpin yang bertipe laissez faire adalah seorang yang bersifat :
a.     Dalam memimpin organisasi biasanya mempunyai sikap yang permisif. dalam arti bahwa para anggota organisasi boleh saja bertindak sesuai dengan keyakinan dan bisikan hati nuraninya asal saja kepentingan bersama tetap terjaga dan tujuan organisasi tetap tercapai.
b.    Bahwa pada umumnya organisasi akan berjaian lancar dengan sendirinya karena para anggota organisasi terdiri dari orang-orang yang sudah dewasa yang mengetahui apa yang menjadi tujuan organisasi, sasaran-sasaran apa yang dicapai dan tugas apa yang harus ditunaikan oleh masing-masing anggota.
c.     Seorang pimpinan yang tidak terlalu sering melakukan intervensi dalam kehidupan organisasional.
d.    Seorang pemimpin yang cenderung memilih peranan pasif dan membiarkan organisasi berjaian dengan sendirinya tanpa banyak mencampuri bagaimana organisasi berjalan.
Pemimpin yang bertipe ini sering dianggap sebagai seorang penumpin yang kurang memiliki rasa tanggungjawab yang wajar terfiadap organisasi yang dipimpinnnya.

6. Tipe Demokratis

        Untuk tipe pemimpin demokratis adalah yang bersifat:
a.         Dalam proses penggerakan bawahan selalu bertitik tolak dari pendapat bahwa manusia adalah mahluk yang termulia di dunia. Selalu berusaha mensinkronisasikan kepentingan dan tujuan organisasi dengan kepentingan dan tujuan pribadi dari para bawahannya.
b.         Senang menerima saran, pendapat bahkan kritik dari bawahannya.
c.         Selalu berusaha mengutamakan kerjasama dan kerja tim dalam usaha mencapai tujuan.
d.         Selalu berusaha untuk menjadikan bawahannya lebih sukses daripadanya.
e.         Berusaha mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin.
f.           Para bawahannya dilibatkan secara aktif dalam menentukan nasib sendiri melalui peran sertanya dalam proses pengambilan keputusan.
Kepemimpinan tipe ini adalah kepemimpinan yang ” Menerapkan empat gaya kepemimpinan berdasarkan ukuran/persepsi tentang kemauan dan kemampuan orang yang dipimpin. Empat gaya tersebut adalah:
a.         Instruksi, untuk bawahan yang tingkat kemauan, kemampuan, keyakinan dan pengetahuannya rendah atau tidak ada sama sekali.
b.         Konsultasi, untuk bawahan yang kemampuannya rendah tetapi kemauannya tinggi. Cara ini dengan mengarahkan, mendukung dan melakukan komunikasi dua arah.
c.         Partisipasi, untuk hawahan yang kemampuan. pendidikan, pengetahuan dan pengalamannya tinggi tapi motivasi dan keyakinannya rendah. Model inj adalah penerapan gaya kepemimpinan dengan mendukung dan saling tukar ide tanpa mengarahkan.
d.         Delegasi, untuk bawahan yang tingkat kematangannya tinggi, kemauan dan kemampuannya dapat diandalkan. Model ini tidak berarti pemimpin tidak bertanggungjawab, tetapi mengajarkan kepada bawahan bagaimana caranya bertanggung jawab.
F. PEMIMPIN FORMAL DAN INFORMAL
Selain tipe kepemimpinan juga terdapat jenis kepemimpinan. Jenis kepemimpinan ada dua macam, pemimpin formal (formal leaders) dan pemimpin informal (informal leaders):
1.      Pemimpin formal : Orang yang secara resmi diangkat dalam jabatan kepemimpinan, diatur dalam organisasi secara hierarki dan tergambar dalam suatu bagan yang tergantung dalam tiap-tiap kantor. Pemimpin ini sering dikenal dengan sebutan “kepala
2.      Pemimpin informal : Seorang yang karena latar belakang pribadi yang kuat mewarnai dirinya. memiliki kualitas subyektif atau obyektif yang memungkinkannya tampil dalam kedudukan di luar struktur organisasi resmi namun ia dapat mempengaruhi kelakuan dan tindakan suatu kelompok masyarakat, baik dalam arti positif maupun negatif. Dalam Islam pemimpin informal adalah Ulama, Ustadz ,Kyai, atau tokoh masyarakat.

G. Efektifitas Individu, Kelompok, dan Organisasi

     Efektifitas dapat diartikan sebagai sebuah prestasi (perfomance) Individu, Kelompok, dan organisasi. Semakin berprestasi seseorang, Kelompok ataupun  organisasi, semakin menunjukkan efektivitasnya. Analisis terhadap perilaku Organisasional (organizational befavior) terdiri dari tingkatan (level) yaitu Individu, Kelompok, dan organisasi.

Perspektif Terhadap Efektifitas dapat diidentifikasi menjadi efektifitas Individu,kelompok, dan organisasi.     Penyebab Efektifitas è tidak lain adalah adanya Individu, Kelompok, dan organisasi.

****

Rabu, 07 Oktober 2015

Televisi Sebagai Media Kampanye Politik



Televisi Sebagai Media Kampanye Politik[1]
Arif Riduan[2]

Pendahuuan
Aktifitas kampanye merupakan salah satu bentuk komunikasi politik, karena kampanye itu sendiri pada intinya adalah proses untuk mengkomunikasikan pilihan. Kampanye dapat juga diartikan sebagai upaya persuasif mengajak orang lain yang belum sepaham atau belum yakin pada ide-ide yang kita tawarkan, agar mereka bersedia bergabung dan mendukungnya. Dan tujuan akhir kampanye adalah maksimalisasi perolehan suara. Dengan demikian setiap partai politik harus memiliki strategi yang tepat untuk membidik target audience dan juga mampu merumuskan apa sesungguhnya yang dibutuhkan khalayak politiknya. Yang terpenting, rakyat sebagai pemegang kedaulatan harus didekati dengan strategi komunikasi yang tepat.[3]
Mempertimbangkan hal tersebut diatas, kampanye melalui media massa – khususnya televisi – dapat menjadi bentuk kampanye alternatif. Setidaknya ada tiga alasan untuk argumentasi ini, pertama, media massa memiliki efek yang besar untuk dapat mempengaruhi opini publik sehingga bersedia mendukung ide dan agenda politik mereka. Kedua, pesan media massa bersifat umum (publicly) sehingga dapat menjangkau khalayak yang sangat besar dan relatif menyebar serta mampu menjangkau semua lapisan masyarakat dengan berbagai keragamannya (heterogen). Ketiga, dalam demokrasi modern, kampanye melalui media massa merupakan cara primer, di mana partai politik dan para kandidat melakukan promosi terhadap produk-produk politik yang akan dipasarkan.[4]
Televisi dan kelebihannya
Televisi adalah sebuah media yang tergolong paling unik dalam sejarah penemuan media saat ini. Jalur komunikasi yang memadukan dua unsur yaitu audio dan visual membuat media ini lebih mudah untuk dinikmati dibandingkan dengan media yang lain yang hanya memadukan satu jalur komunikasi saja. Misalnya koran yang hanya bisa dinikmati dengan kemampuan mata untuk membacanya, atau radio yang hanya bisa kita nikmati dengan kemampuan mendengarkan saja. Sedangkan  televisi, memberikan kelebihan dibanding dengan media yang lain antara lain:
1.      Televisi dapat dinikmati dengan mudah. Televisi seolah-olah menjadi wakil mata pemirsa yang langsung bisa melihat kenyataan tanpa harus berimajinasi seperti kita membaca koran ataupun ketika kita mendengarkan radio.
2.      Jangkauan pemirsa dalam televisi lebih banyak ketimbang media yang lain. Karena televisi dapat dinikmati aksesnya oleh semua kalangan baik anak-anak, remaja, dewasa, maupun lanjut usia.
3.      Televisi adalah media yang relatif murah dibanding media yang lain. Untuk menonton film, masyarakat tak perlu lagi berbondong-bondong pergi ke bioskop, tetapi cukup bisa melihat melalui televisi. Televisi tidak perlu berlangganan untuk mengakses channel nasional yang telah disediakan. Berbeda dengan koran atau internet yang harus mengeluarkan uang ketika kita akan menikmatinya.
4.      Televisi adalah media yang luas jangkauanya. Semua kalangan hingga ke pelosok negeri telah mengenal media televisi ini dalam kehidupan sehari-harinya.
5.      Televisi tak hanya mampu menyalurkan informasi saja sebagai fungsi media, akan tetapi televisi mempunyai kemampuan lebih untuk menyajikan acara hiburan dibandingkan dengan media yang lainya. Karena televisi mengandung unsur audio dan visual yang dapat mendukung dalam memberikan hiburan yang lebih mudah di mengerti oleh masyarakat.
Itulah yang menjadi alasan mengapa media ini memberikan peranan yang lebih besar dalam mempengaruhi masyarakat dibandingkan dengan media yang lain.[5]
Televisi Sebagai Media Politik
Secara teoritis, stabilitas partai politik dapat terjadi bila pemilih mengindentikan diri dengan partai. Bila hanya sedikit yang memiliki party ID, dukungan pada partai akan lemah dan bergejolak. Dapat dikatakan dukungan yang akan diperoleh oleh partai akan sedikit, karena banyak orang yang tak terikat dengan partai tersebut. Hal tersebut memaksa untuk partai mengadakan kampaye secara luas guna menyeimbangkan gejolak tersebut, Salah satu media kampanye yang bisa menjangkau secara luas saat ini ialah televisi.[6]
Fenomena ini disebut telepolitis, yaitu bergesernya peran partai dan dominasi media, terutama televisi dalam memersuasi pemilih. Televisi dianggap mampu menyelinap ke ruang keluarga dan dapat menjangkau semua kalangan. Berbeda dengan pertemuan politik konvensional yang mensyaratkan kehadiran seseorang, interaksi melalui televisi lebih bersifat one-way traffic communication, lebih praktis dan tidak merepotkan pemilih. [7]
Televisi muncul sebagai kekuatan baru yang lebih praktis dalam menyampaikan informasi politik kepada masyarakat. Data survey menunjukkan bahwa masyarakat kita paling banyak mendapatkan informasi politik melalui televisi.[8] Media televisi sangat membantu sosialisasi figure caleg ataupun profil partai serta menampilkan produk keungulannnya. Daya jangkaunya yang luas membuat televisi menjadi pilihan untuk media sosialisasi.[9]
Gejala telepolitis bahkan mempengaruhi elite partai politik dalam merekrut caleg. Karena artis memiliki popularitas tinggi, banyak partai-partai politik yang mengusung artis sebagai caleg dengan maksud memperbesar suara partai. Akhirnya, kader-kader partai memiliki kompetensi tergusur. Apalagi dengan system suara terbanyak yang lebih membuka peluang bagi artis popular untuk mengalahkan politisi yang sudah malang-melintang dalam dunia perpolitikan.[10]
Hal yang lain ialah adanya peran media massa dalam memberikan berbagai macam informasi tentang kelemahan atau  keburukan  partai  politik termasuk  para anggotanya,  karena  itu terkadang partai  politik  melihat  media  massa,  khususnya  televisi,  sebagai  sesuatu  yang negatif.  Peranan  media  televisi  dalam  membentuk  opini masyarakat  dirasakan betul oleh kalangan partai politik, dimana televisi memberikan masyarakat pandangan langsung terhadap fenomena politik yang mereka lihat bahkan dengan perkembangan teknlogi yang ada  saat  ini masyarakat   dapat  langsung   menyampaikan   pandangan   politik mereka di televisi.
Televisi juga dapat menjadi alat untuk membantu pencitraan partai politik, terutama partai politik yang baru. Bentuk pencitraan tersebut bermacam-macam, bisa melalui  iklan dan diskusi sehingga  memberikan  gambaran  kepada masyarakat.  Terkait  tentang  bentuk  pencitraan politik  melalui  televisi  peneliti melihat bahwa pemberitaan juga merupakan iklan, yang dapat dianggap sebagai iklan  non-konvensional,  karena  tidak  dikhususkan  tayang  dalam  kurun waktu tertentu  dan  tidak  langsung  menunjukan  kepada  atribut  tertentu,  sedangkan iklan-iklan  pada  umumnya  ditayangkan  pada  kurun  waktu  tertentu  dan  lebih langsung menonjolkan  atribut atau simbol.  Untuk membuat  suatu pemberitaan yang baik maka diperlukan juga komunikasi yang baik.
Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan media massa tidak dapat dilepaskan dari peranan dan fungsinya dalam bidang sosial dan politik, karena penetrasinya  yang  begitu  luas  maka  banyak media  televisi  telah  dilirik  oleh beberapa  partai  politik  untuk  digunakan  sebagai  alat melakukan  sosialisasi politik, terlebih lagi jika yang mempunyai akses media itu seorang politisi.
Tayangan Politik di Televisi
Peranan televisi dalam membentuk opini masyarakat dirasakan betul oleh seluruh kalangan partai politik. Misalnya, anggota  DPP Partai  Demokrat  merasakan  bahwa pemberitaan  tentang Partai Demokrat di berbagai televisi merugikan demokrat. Seperti dengan adanya pemberitaan  kasus korupsi  yang melibatkan  anggota  partai demokrat,  padahal media harus memisahkan antara oknum dengan partai.
PKS  misalnya,  banyak  melihat  salah  persepsi  wartawan  dalam menangkap maksud sebuah pernyataan “Seperti Fachri Hamzah pernah mengungkapkan  Bubarkan  saja KPK, padahal maksudnya  adalah kalau kinerja KPK selama ini tidak maksimal, tidak bisa mengungkap kasus besar dan lebih menghabiskan anggaran maka untuk apa dipertahankan. Pernyataan itu juga maksudnya agar KPK termotivasi untuk bekerja lebih keras. Ketika muncul berita bubarkan KPK akhirnya ada opini bahwa anggota PKS tidak mendukung pemberantasan  korupsi, padahal maksud bukan seperti itu.
Partai  Nasdem,  yang  kebetulan  pemilik  stasiun  televisi  tersebut,  Surya Paloh  merupakan  orang  di  balik  layar  Partai  Nasdem.  Hal  itu  terlihat  dari sebagian besar berita Partai Nasdem yang muncul berisi acara seremonial pembentukan Partai   Nasdem   dan  organisasi  sayapnya   di  berbagai   dearah.   Sementara tingginya  berita  tentang  Partai Demokrat  lebih  banyak  diisi  tentang terungkkapnya kasus korupsi yang dilakukan para politisi dari partai tersebut. Selain pengaruh  dalam  isi  berita,  Metro  TV  juga  menerima  dan menayangkan iklan Partai Nasdem yang cukup banyak, yaitu sebanyak 110 spot iklan dalam periode waktu Agustus hingga November 2012 lalu.
Sementara,  saingan  Metro TV baik sebagai  televisi  berita maupun  dari sisi  kepemilikannya,  yaitu  TV  One,  tercatat  menayangkan   1712  item  pada program ”Kabar Petang”. Dari jumlah tersebut, item berita tentang Partai Golkar sebanyak 102 item, disusul Partai Demokrat 95 item, 72 item tentang PDIP dan masing-masing 30 item berita tentang PKS dan Nasdem. Banyaknya item berita tentang Golkar pasti disebabkan kepemilikan stasiun televisi tersebut yang sepenuhnya dimiliki keluarga Bakrie, yang dipimpin Abrurizal Bakrie, yang juga merupakan  Ketua Umum Partai Golkar, yang kemarin berencana mencalon sebagai  presiden dari partai tersebut untuk pemilu tahun 2014.
Sebagian besar item berita tentang Golkar memang merupakan berbagai hal yang dilakukan Aburizal Bakrie dalam kapasitasnya   sebagai  Ketua  Umum  Golkar . Sementara untuk item berita tentang Partai Demokrat, sama seperti di pemberitaan Metro TV juga lebih banyak diisi dengan berita kasus korupsi yang dilakukan  pengurus  partai  yang  didirikan Presiden SBY  tersebut.  Berbanding sama dengan isi pemberitaan, TV One juga tercatat menayangkan 82 iklan politik, Partai Golkar dan Aburizal Bakrie dalam berbagai versi sepanjang kurun waktu tiga bulan tersebut.
Penutup
Pemanfaatan media televisi dalam pencitraan partai politik sudah menjadi bahan kajian  menarik,   terutama   dalam   setiap   penyelengaraan   pemilihan, termasuk  pada tahapan awal  pemilu  tahun  2014.  Televisi  masih  dianggap sebagai media massa yang paling efektif dalam menyampaikan pesan, tidak terkecuali  pesan  politik  yang  selalu  disampaikan oleh  partai  politik,  terutama dalam  kapasitas  mereka  sebagai  konstentan  pemilihan umum.Selain  itu,  persaingan  tersebut bukan tidak mungkin juga akan merugikan masyarakat atau penonton, terutama dalam  kenyamanan  mereka  mendapatkan  informasi  dan  hiburan  dari  televisi.


*****Sekian terima kasih*****


[1] Disampaikan pada diskusi rutin mingguan FKPAI Kalsel di Kantor LK3 Banjarmasin, dengan tema “ gerakan politik “
[2] Aktivis FKPAI Kalsel
[4] Log. Cit.
[5] http://komunikasi.us/index.php/course/perkembangan-teknologi-komunikasi/185-perkembangan-dan-manfaat-televisi
[6] Buhanuddin Muhtadi, Perang Bintang 2014, ( Bandung: Mizan 2013), hal. 122
[7] Ibid, hal. 123
[8] Ibid, hal. 126
[9] Aditiya perdana, Dkk, Panduan Calon Legislatif Perempuan Untuk Pemilu 2014, ( Jakarta: Puskapol UI, 2013 ) hal. 128
[10] Ibid, hal. 129


Sabtu, 25 Juli 2015

Sungai Kelayan


Sungai Kelayan ..

Warnamu yang coklat legam, bagiku itu warna dari Surga..
Aroma pagi dan soremu tak kalah dengan derai pantai..
hiruk pikuk jasa kelotok mewarnai bak stasiun kereta api ...
enceng godong yang hilir-mudir bagikan bunga yang menghiasi taman..



oh.. sungai kelayan
bagiku kau adalah kolam renang gratis yang bisa dinikmati oleh siapa kami yang hidup sederhana ini, kapan saja..

oh.. sungai kelayan..
badan atau sisimu banyak terdapat banyak kenangan masa kecilku, cinta dan cita-cita pula terukir..

oh.. sungai kelayan..
bagaimana pun keadaan dirimu, kau dicintai oleh banyak orang, kau dibanggakan oleh banyak orang..
tak cukup kata untuk memujiMu..

ku hanya berharap kau takkan marah dan ku harap kau juga tetap sabar, jika selama kau berada bersama kami, banyak saudara-saudara kami yang senantiasa mengotorimu..
ku harap kau memaafkannya dan bisa menjelaskannya kepada Tuhan, bahwa engkau tidak marah



















Si Halaban Di Telaga Air Bertuah, Naskah Drama Teater, Cerita Legenda Banjar

  Si Halaban Di Telaga Air Bertuah Legenda Gunung Bajuin *Terinspirasi dari cerita rakyat legenda Halaban dan Telaga Banyu Batuah Gunung Baj...